Pengisian Pulau Jawa

 

Pada suatu hari Mpu Sangkala didatangi utusan Sultan Galbah yang memintanya untuk segera memimpin pengisian kembali Pulau Jawa dengan penduduk manusia. Kali ini Sultan Galbah memerintahkannya untuk mencari penduduk yang tinggal di daerah panas seperti pulau tersebut.

Maka berangkatlah Mpu Sangkala ke Tanah Hindustan untuk membawa penduduk dari sana. Atas izin Batara Guru yang dipertuhankan orang-orang Hindustan, Mpu sangkala pun memperoleh 1500 keluarga dari Negeri Keling lengkap dengan membawa perabotan rumah tangga dan hewan ternaknya. Selain itu ia juga mendapat bantuan dari ketiga adiknya yang bernama Mpu Bratandang, Mpu Braruni, dan Mpu Braradya.  Kemudian mereka berangkat melalui pulau Selakandi (sekarang disebut Srilanka), Hindia Belakang, dan Siam. Dari perjalanan itu, jumlah mereka setibanya di Pulau Jawa menjadi 20.000 keluarga. Lagi

Iklan

Penumbalan Tanah Jawa

Prabu Ajisaka yang bertakhta di Kerajaan Surati terpaksa harus meninggalkan negerinya karena hancur oleh serbuan musuh. Ia kemudian mengungsi ke hutan dan ditemui oleh Batara Anggajali. Ayahnya itu menyarankan agar ia bertapa di Pulau Jawa yang kini sudah ditinggalkan Batara Guru.

Ajisaka tiba di Pulau Jawa. Di sana ia berganti nama menjadi Mpu Sangkala dan bertempat di Gunung Hyang. Saat pertama kali ia membuka gunung tersebut ditetapkan sebagai permulaan tahun Sangkala. Lagi

Cupu Linggamanik

Setelah lima belas tahun berkahyangan di Argadumilah, Batara Guru mendengar kabar bahwa Nabi Isa telah meninggal dunia. Ia pun mengajak semua para dewa dan bidadari untuk meninggalkan Pulau Jawa, kembali ke Pegunungan Himalaya.

Namun Kahyangan Gunung Tengguru telah rusak parah akibat serangan burung merpati ciptaan Nabi Isa dulu. Maka Batara Guru pun membangun kahyangan baru di puncak lain Himalaya, yaitu di Gunung Kelasa. Kahyangan tersebut diberi nama Kahyanagan Jonggringsalaka, karena memancarkan cahaya berwarna keperak-perakan. Lagi

Terciptanya Batara Kala

Pada suatu hari, Batara Guru mengajak istrinya, Batari Uma untuk pergi ke langit selatan laut Jawa dengan mengendarai Lembu Andini. Sinar matahari senja yang menerpa tubuh Batari Uma, membuat parasnya semakin cantik. Batara Guru bangkit nafsunya dan ingin menyetubuhi istrinya itu di atas punggung Lembu Andini saat itu juga.

Batari Uma menolak karena malu kepada Lembu Andini, dan meminta agar Batara Guru bersabar hingga mereka kembali ke kahyangan Arga Dumilah di puncak Gunung Mahendra. Namun Batara Guru bersikeras mengajak Batari Uma menuruti hasratnya. Ia pun memangku istrinya hingga mengeluarkan air mani. Namun Batari Uma meronta menghindar hingga air mani itu jatuh ke dalam laut selatan. Lagi

Hancurnya Kahyangan Tengguru

Alkisah, Isa putra Siti Maria telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia delapan belas tahun. Sejak lima tahun yang lalu ia ikut kerabatnya berdgang di tanah Hindustan. Di sana ia belajar tentang samadi dan tata cara menyembah Tuhan.

Isa memiliki kepandaian di atas rata-rata manusia biasa. Dalam waktu singkat ia telah menyerap semua ilmu yang dipelajarinya. Bahkan, pengikutnya bertambah banyak. Di antaranya adalah orang-orang yang tidak mau tunduk dan menyembah Batara Guru. Lagi

Berdirinya Kahyangan Tengguru

Tersebutlah seorang keturunan Sayid Anwas bernama Nabi Suleman, yang selain menjadi pemimpin agama juga menjadi raja Kerajaan Banisrail. Selain memimpin bangsa manusia, ia juga memimpin golongan jin dan binatang.

Saat itu Nabi Suleman merasa heran mengapa jumlah pengikutnya dari bangsa jin banyak yang berkurang. Ternyata ada laporan bahwa para jin tersebut banyak yang berpindah mengabdikan diri dan mempertuhankan Sanghyang Wenang di Pulau Dewa. Nabi Suleman memutuskan untuk menaklukkan Sanghyang Wenang. Lagi

%d blogger menyukai ini: