Sudah Mulia Kah Anda Dengan Ibadah Anda?

Ujian hidup, datang tiba-tiba. Yang ternilai adalah, apakah Anda sadar bahwa saat itu adalah sebuah ujian, dan bagaimana sikap Anda untuk menjalani ujian. Di situ lah sesungguhnya kemuliaan seseorang terpancar. Bukan dari ibadah yang setiap hari ia beritahukan kepada orang lain, yang terlihat orang lain. Tapi di saat Anda terlena.

Dalam sebuah acara reality show di televisi, ada seorang aktor yang akan “ngerjain” orang-orang tertentu secara acak. Apabila “korban” mau melaksanakan kegiatan yang diminta oleh si aktor, dia akan mendapatkan hadiah. Kegiatan ini direkam dengan hidden camera. Lagi

Iklan

Mutiara Kehidupan

  1. Orang yang tinggi pengetahuannya, tidak akan sayang ketika harus merelakan kekayaannya, bahkan nyawanya, jika itu demi kesejahteraan banyak orang. Tahulah ia bahwa maut pasti akan datang karena tidak ada sesuatu yang kekal kecuali Dia. Karenanya, hidup lebih baik digunakan untuk membantu sesama.
  2. Hal yang harus dihindari adalah kekikiran. Berbuatlah kebaikan terhadap siapa pun. Banyaklah bersedekah ketika kita merasa bahwa kita diberi rejeki yang tidak ada putusnya, melebihi orang lain. Karena hal itu, adalah bentuk karmapala. Dimana Sang Pencipta menitipkan kekayaannya kepada kita untuk disampaikan kepada orang lain. Ingatlah bahwa apa yang kau dapat, bukanlah karena hasil keringatmu sendiri. Jika engkau merasa telah bekerja keras demi mendapatkan kekayaan yang engkau miliki, tiliklah orang yang telah sama bekerja keras sepertimu namun ternyata tidak memiliki kekayaan sepertimu.
  3. Apalah gunanya kelebihan itu jika hanya engkau nikmati sendiri? Demikian pula sastra tidak akan ada gunanya jika tidak dapat menjadi penerang bagi pelaksanaan dharma bakti. Demikian pula kearifan, tidak akan ada gunanya jika tidak diarahkan untuk mengekang hawa nafsu.

 

Memayu Hayuning Bawana

Luhuring kawruh babagan karahayon dumunung ana ing pangawikan pribadi, samubarang kalir saliring bab sabarang reh mengku kaluhuran Gusti sinawung sekar kesumastuti.

Pangawikan Pribadi Pambukaning Kaywanan
1. Surya kembar ing madyaning ratri, tumanduking katresnan sanyata, lelabuhan panuntune, rawuhe panunggal laku, pengadilan asmara wening, pinarcaya ing kodrat, tumuli manekung, sinerat pustaka rasa, sing prayitna lamun harsa manjing budi, memayu hayuningrat.
2. Tumurune pepakon kang jati, peparinge Kang Maha Kuwasa, minangka panunggal dzate, panyerat karya hayu, rahayune manunggal kardi, pakaryaning Pangeran, aneng budi luhur, panunggaling cipta rasa, miwah karsa panyerat pustaka iki, , mangestu hesti tunggal Lagi

Nagarakretagama

Pupuh I

1.

Om! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki Pelindung jagat Siwa-Buda Janma-Batara sentiasa tenang tenggelam dalam Samadi Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja dunia Dewa-Batara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah. Lagi

Serat Wedhatama

Pupuh I

Pangkur

01

Mingkar-mingkuring ukara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ilmu luhung,kang tumrap ing tanah Jawa, agama ageming aji. Lagi

Guritku Gurit Pamuji Setya Amrih Prasaja

Sungegurit lumantar tutur kang prasaja

Nembah suci wiwaraning ati kang kaèksi

Basa tutur kang rinacik ing nguni

Wulangrèh kang dèn memetri Lagi

Sabda Pandita Ratu dan Bawalaksana

Dalam dunia orang Jawa kita mengenal adanya ungkapan etika yang berbunyi “Sabda pandhita ratu, tan kena wola – wali” dan “Berbudi Bawalaksana”. Dalam pengartian bebas ungkapan Sabda pandhita ratu tan kena wola – wali dapat diartikan ucapan pendeta/raja, tidak boleh diulang dan berbudi bawalaksana dapat berarti mempunyai sifat teguh memegang janji, setia pada janji atau secara harafiah bawalaksana dapat juga diartikan satunya kata dan perbuatan. Lagi

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: