Agama To Lotang

ABSTRAK

Manuskrip La Galigo adalah warisan orang Bugis. Ia pada intinya mengandungi empat aspek: keagamaan, kitab suci, tradisi dan kesenian. Sebelum menganut Islam, orang Bugis mempercayai ajaran daripada La Galigo bahwa Dewa tertinggi mereka adalah Patotoqé yang bermukim di Boting langiq dan Dewi Sinauq Toja yang bermukim di Buri Liu. Kepercayaan itu telah melahirkan upacara dan tradisi yang sampai kini masih dapat ditemui dalam kebudayaan orang Bugis. Penjaga dan penyelamat La Galigo adalah Bissu dan Sanro. Kalau Bissu adalah pendeta banci yang berfungsi sebagai penghubung antara manusia dengan dewa, maka Sanro pula adalah pengamal yang berada di belakang layar dan bertugas menyediakan peralatan dan bahan-bahan serta alat upacara. Lagi

Iklan

Aluk Todolo, Kepercayaan Kepada Leluhur

Tak ada aturan tertulis mengenai Aluk Todolo, kepercayaan kepada leluhur warga Dusun Kanan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Kepercayaan mereka diturunkan secara lisan, turun-temurun, dan mengikat kehidupan sehari-hari. Namun, warga mematuhi aturan itu dan rela menjalani hukuman jika ketahuan melanggar Penganut Aluk Todolo wajib menyembah dan memuliakan leluhurnya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sikap hidup serta ungkapan ritual. Lagi

Bahasa dan Aksara Batak

Menurut kepercayaan rakyat Batak, awalnya nenek moyang mereka, bernama Siraja Batak, mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak. Siraja Batak ini tak tahu bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa ibunya. Barulah setelah rakyat Batak menyebar ke desa na uwalu, mereka tahu bahwa masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak. Kenyataan ini mereka ketahui setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian disusul Perang Batak dan Perang Padri. Terbukalah mereka bahwa sebetulnya masih banyak bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak. Lagi

GAMELAN Simponi Musik Jawa Bercita Rasa Keselarasan Hidup

Untuk menata segala kehidupan menjadi selaras dalam kehidupan duniawi dan rohani/batin adalah pandangan hidup dan kesehari-harian masyarakat jawa pada umumnya, misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian), keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngono ya ngono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dapat menahan emosi.

Keselarasan berarti dirinya dapat mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras, harmonis dan tidak menimbulkan kegoncangan. Saling menjaga diri, saling menjaga cipta, rasa, karsa dan perilaku, adalah pandangan hidup dan realitas hidupnya walau terjadi ritme-ritme karena dinamika kehidupan masyarakat. Dari sini maka irama Gendhing atau musik dari Gamelan termasuk tembang jawa itu disusun dan dibuat. Lagi

Saunggalah dan Kuningan: Dua Wilayah Istimewa dalam Sejarah Parahyangan

Saunggalah dan Kuningan termasuk wilayah-wilayah administrasi yang cukup kuno dalam sejarah Jawa Barat dan Nusantara. Nama kedua wilayah ini, setidaknya, telah tertulis sejak awal abad ke-8 Masehi, terletak di Kuningan kini, di jantung Jawa Barat. Bila merujuk pada pendapat Poesponegoro (2008: 379), maka Saunggalah dan juga Kuningan bukanlah sebuah kerajaan, melainkan salah satu wilayah atau huyut haden yang termasuk dalam sistem administrasi Kerajaan Sunda pada suatu periode, berbeda dengan status Pakuan Pajajaran dan Galuh yang silih berganti menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sunda. Ada pendapat yang meyakini bahwa pada suatu periode, Saunggalah pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, dan hal ini akan kita telusuri pada pemaparan di bawah ini. Lagi

Kabuyutan di Gunung Gede dan Gunung Pangrango

Di akhir abad ke-15, atau selambat-lambatnya awal abad ke-16, seorang pendeta bernama Bujangga Manik melakukan “wisata ziarah” ke tempat-tempat suci di Pulau Jawa. Bahkan, dalam perjalanan kedua, ia sampai ke Bali. Ia berangkat dari ibu kota Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang), baik melalui darat maupun melalui laut. Kisah perjalanan yang dituliskannya pada helaian daun lontar, juga mungkin nipah atau gebang dengan menggunakan bahasa Sunda, sejak tahun 1627 tercatat sebagai koleksi Bodleian Library di Oxford, Inggris. Lagi

Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit


DI ANTARA prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya, prasasti Kedukan Bukit paling menarik diperbincangkan. Di samping banyak mengandung kata yang tidak mudah ditafsirkan, prasasti tersebut oleh beberapa sarjana dianggap mengandung kunci pemecahan masalah lokasi ibukota kerajaan besar itu, yang mendominasi pelayaran dan perdagangan internasional selama empat abad. Dari segi ilmu bahasa, prasasti Kedukan Bukit merupakan pertulisan bahasa Melayu-Indonesia tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini. Lagi

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: