Jenis Hubungan yang Bisa Diasuransikan

Pada edisi minggu lalu, saya sudah memaparkan tentang prinsip insurable interest yang melekat pada semua produk asuransi, termasuk di dalamnya produk asuransi jiwa. Salah satu jenis hubungan yang terakomodasi di dalamnya adalah hubungan antaranggota keluarga inti (suami, istri, dan anak-anak).

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya,selain konteks hubungan keluarga inti, ada tiga jenis hubungan lain yang memenuhi prinsip insurable interest, yakni (1) Hubungan antara Kreditor dan Debitor; (2) Hubungan antara Karyawan dan Majikan/Perusahaan; (3) Hubungan antara Majikan/ Perusahaan dan Karyawan.

Pertama, implementasi dari perlindungan asuransi jiwa yang memenuhi prinsip insurable interest adalah konteks hubungan antara kreditor dan debitor.

Dalam hal ini, kreditur adalah pihak yang memberikan kredit/pinjaman kepada peminjam (debitor). Kreditur yang berniat untuk mengasuransikan jiwa debitornya harus menunjukkan kepentingan yang besar atas kelangsungan hidup debitur.

Asuransi jiwa memungkinkan bagi kreditor untuk meminimalisasi kerugian finansial seandainya debitur meninggal dunia sewaktu-waktu, dan yang bersangkutan masih memiliki kewajiban pembayaran utang kepada kreditur yang bersangkutan.

Apa yang terjadi bila debitor meninggal dunia dan kreditur belum menerapkan skema asuransi jiwa terhadap debiturnya? Kematian debitur memang tidak secara otomatis menghilangkan kewajibannya untuk melunasi utang yang masih ada.

Meskipun demikian, kreditur bisa mengalami potensi kerugian bila aset milik debitor tidak cukup untuk membayar sisa utang yang masih ada. Itu sebabnya, merupakan langkah yang tepat dan bijak bagi kreditor bila polis asuransi jiwa diterapkan bagi debiturnya.

Kedua, proteksi asuransi jiwa juga bisa diterapkan untuk melindungi kepentingan para karyawan terhadap eksistensi majikan/perusahaan. Skema ini tepat diterapkan untuk mengamankan besarnya nilai kontrak kerja di antara kedua pihak, dan sudah tentu mendatangkan keuntungan bagi keduanya.

Misalnya seorang karyawan mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan untuk masa kontrak selama dua tahun, berdasarkan kontrak kerja yang sudah disepakati bersama. Atas izin dari sang majikan, karyawan dapat membeli polis asuransi jiwa yang memosisikan majikan sebagai tertanggung dengan nilai uang pertanggungan maksimum sebesar Rp48 juta (2x12x Rp2 juta).

Apa yang terjadi bila majikan meninggal dunia sebelum masa kontrak kerja berakhir? Bila asuransi jiwa yang diperuntukkan bagi majikan sudah dimiliki karyawan, karyawan tetap bisa mendapatkan potensi pendapatan sesuai dengan besaran yang disepakati sebelumnya.

Ketiga, majikan juga bisa mengasuransikan jiwa karyawannya bila karyawan tersebut memenuhi asas kepentingan insurable interest. Kepentingan ini biasanya muncul pada saat kedua pihak mengikat kontrak kerja untuk kurun waktu tertentu.

Bila karyawan meninggal dunia sebelum masa kontrak berakhir, majikan dapat menderita kerugian secara finansial bila skema asuransi jiwa belum diterapkan pada karyawan tersebut.

Majikan juga bisa memiliki insurable interest atas karyawannya bila sang majikan telah mengeluarkan biaya yang cukup besar dalam menyediakan fasilitas training bagi karyawan.

Dalam konteks ini, majikan akan mengalami kerugian atas seluruh biaya pelatihan tersebut bila karyawan tersebut meninggal dunia.

Alasan yang paling umum bagi majikan dalam membeli polis asuransi jiwa terhadap jiwa karyawan ialah melindungi kepentingan mereka atau perusahaan atas kerugian keuangan, bila karyawan yang bersangkutan meninggal dunia atau mengalami gangguan kesehatan, terlebih bila karyawan yang bersangkutan merupakan karyawan kunci.

Jenis polis asuransi untuk kepentingan seperti ini umumnya dikenal dengan istilah Polis Asuransi Keyman (orang kunci). Seorang karyawan masuk dalam kategori karyawan kunci bila keberadaannya sangat vital dan penting bagi kelangsungan usaha majikan atau perusahaan.

Untuk polis jenis ini, perusahaan asuransi bisa menyetujui besarnya uang pertanggungan pada jumlah tertentu untuk menutup kerugian atas meninggalnya karyawan kunci tersebut.

Proteksi biaya juga bisa mengakomodasi kepentingan majikan atau perusahaan untuk mencari pengganti karyawan serta biaya pendidikan dan pelatihan bagi karyawan pengganti tersebut.

Ketiga jenis hubungan tersebut masuk dalam kategori hubungan yang bisa diasuransikan, sehingga pemegang polis bisa mendapatkan proteksi manakala mitra yang terlibat dalam hubungan tersebut mengalami kejadian/kemalangan tak terduga di kemudian hari.

Jika kemalangan terjadi, perusahaan asuransi jiwa nantinya bisa memberikan manfaat tunai secara maksimal kepada para tertanggung yang memang berhak mendapatkannya. Pemegang polis asuransi jiwa pun bisa mendapatkan manfaat proteksi yang maksimal dari polis yang dimilikinya. Selamat berasuransi!

EDDY KA BERUTU
Praktisi Asuransi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: