Jangan Terlalu Parno dengan Bakteri

Banyak yang percaya segala hal yang terkena bakteri dapat menyebabkan penyakit. Padahal tidak semua bakteri dalam keadaan normal dapat menimbulkan penyakit. Tapi yang terjadi orang terlalu parno alias paranoid (takut berlebihan) dengan bakteri.

“Tidak semua bakteri dalam keadaan normal dapat menimbulkan penyakit pada manusia, bahkan banyak yang justru bermanfaat,” jelas Prof Dr Sam Soeharto, Sp.MK (K), Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dalam acara Lokakarya Keamanan Pangan Olahan bagi Wartawan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Menurut Prof Sam, keberadaan bakteri tertentu di dalam makanan atau minuman sebenarnya tidak membahayakan manusia itu sendiri, asalkan jumlahnya tidak terlalu banyak dan daya tahan tubuh manusia normal.

“Sikap paranoid terhadap bakteri harus dihindari. Masyarakat menganggap seakan-akan semua makanan harus steril, padahal manusia saja tidak ada yang steril,” jelas Prof Sam.

Prof Sam mengingatkan bahwa makanan yang dikonsumsi orang sehari-hari tidak pernah steril secara penuh, karena tangan, jari-jari dan bagian tubuh manusia tidak akan pernah steril atau bebas dari mikroorganisma.

“Jumlah bakteri di tubuh manusia ada 10 kali lipat lebih banyak dari jumlah sel manusia itu sendiri,” jelas Prof Sam.

Dalam dunia kedokteran dikenal adanya bakteri yang secara alami ganas (virulen), diartikan sebagai bakteri yang kalau masuk ke tubuh manusia umumnya mengakibatkan penyakit, tidak peduli apakah manusia tersebut keadaan tubuhnya memiliki daya tahan tubuh normal (kuat) atau lemah.

Contoh bakteri ganas misalnya Mycobacterium tuberculosis, Vibrio cholera, Salmonella spp.

Sedangkan bakteri lain dalam keadaan normal bisa menjadi ‘sahabat’ manusia seperti kelompok Enterobacteriaceae (contohnya Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Enterobacter sakazakii) yang dalam keadaan normal biasa hidup di dalam saluran usus besar atau di lingkungan kehidupan manusia.

“Bahkan dalam keadaan normal, keberadaan E. coli di dalam usus manusia, justru menjadi pertahanan infeksi oleh bakteri ganas seperti Salmonella spp dan Shigella dysenteriae,” ujar Prof Sam.

Namun jika manusia itu daya tahannya menurun, bisa berat atau ringan, maka bakteri yang biasanya hidup berdampingan dengan manusia akan menjadi bakteri yang mengakibatkan penyakit.

“Bakteri mutlak harus ada dalam ekosistem. Kalau nggak ada bakteri kiamatlah kita, karena bakteri mempunyai tugas vitak dalam ekositem sebagai dekomposer yang memecah berbagai zat organik menjadi zat anorganik, sehingga memungkinkan adanya kehidupan,” ujar Prof Sam.

Paranoid berlebihan pada bakteri dirasakan oleh Prof Sam pada kasus bakteri Enterobacter sakazakii di dalam susu bubuk formula.

“Paranoid masyarakat sangat luar biasa pada susu berbakteri, tidak sebanding dengan dampak bakteri itu sendiri,” jelasnya.

Menurut Prof Sam, bakteri E. sakazakii telah lama dikenal dan diketahui bisa ditemukan pada usus manusia dan hewan serta di lingkungan dan peralatan di sekitar kita.

E. sakazakii adalah salah satu dari sekian banyak bakteri yang sebenarnya ditemukan di lingkungan. Meskipun masuk ke dalam usus besar manusia, dalam keadaan normal E. sakazakii tidak membahayakan kesehatan. Bakteri ini baru mungkin membahayakan kesehatan pada bayi-bayi berisiko, misalnya bayi prematur yang lahir di bawah usia 37 minggu dengan berat badan kurang dari 2.250 gram,” jelas Prof Sam.

Oleh karena itu, kasus infeksi E. sakazakii hanya pernah ditemukan di rumah sakit, yaitu pada anak atau bayi yang dirawat karena gangguan sistem kekebalan tubuh.

Menurutnya, susu formula memang tidak dinyatakan sebagai suatu produk yang steril atau terbebas dari mikroba, sehingga adanya bakteri yang tidak ganas, tentunya dalam jumlah yang kecil adalah wajar.

“Susu bukan produk steril. Hal ini dapat terjadi karena mungkin sudah ada dalam puting susu sapi, pada peralatan pemerahan susu, saat fabrikasi atau mungkin saat pengenceran sebelum diberikan pada bayi,” jelas Prof Sam.

Menurut Prof Sam, bakteri E. sakazakii sebenarnya gampang mati, cukup dengan pemanasan 70 derajat celcius saja sudah mati.

Selain itu, pastikan cuci tangan sebelum menyiapkan susu dan jangan mengonsumsi susu yang sudah disiapkan sejak 2 jam sebelumnya. Susu yang sudah disiapkan lebih dari 2 jam harus dibuang dan ganti dengan yang baru.

Merry Wahyuningsih – detikHealth

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: