Saunggalah dan Kuningan: Dua Wilayah Istimewa dalam Sejarah Parahyangan

Saunggalah dan Kuningan termasuk wilayah-wilayah administrasi yang cukup kuno dalam sejarah Jawa Barat dan Nusantara. Nama kedua wilayah ini, setidaknya, telah tertulis sejak awal abad ke-8 Masehi, terletak di Kuningan kini, di jantung Jawa Barat. Bila merujuk pada pendapat Poesponegoro (2008: 379), maka Saunggalah dan juga Kuningan bukanlah sebuah kerajaan, melainkan salah satu wilayah atau huyut haden yang termasuk dalam sistem administrasi Kerajaan Sunda pada suatu periode, berbeda dengan status Pakuan Pajajaran dan Galuh yang silih berganti menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sunda. Ada pendapat yang meyakini bahwa pada suatu periode, Saunggalah pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, dan hal ini akan kita telusuri pada pemaparan di bawah ini.

Nama Saunggalah dan Kuningan termaktub dalam Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan yang ditulis pada abad ke-16 (dua naskah ini sebenarnya merupakan satu kesatuan namun karena terdapat perbedaan pokok atau tema maka oleh filolog dibagi dua, kini tersimpan di Perpusnas dan dikenal dengan nama register Kropak 406). FCP menulisnya sebagai “Saunggalah”, sedangkan CP menulisnya “Saungkalah”. Sementara itu, nama Kuningan telah tertulis seperti ini adanya, tak mengalami perubahan fonetis.
Para pembaca tentu bertanya: mengapa pembahasan kedua alas ini disatukan dalam sebuah tulisan? Jawabannya, karena pertautan antara keduanya sangat erat, sambung-menyambung, terutama dalam hal lokasi dan tokoh-tokoh yang memegang peran sejarahnya. Saunggalah berada di wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sekarang.
Rahyang Sempakwaja, Batara di Galunggung

Menurut Carita Parahyangan yang berbahasa dan beraksara Sunda Kuno tersebut, riwayat Saunggalah bermula dari Rahyang Kuku alias Sang Seuweukarma alias Rahyang Deminawan, putra Rahyang Sempakwaja penguasa Galunggung. CP menuturkan bahwa Rahyang Sempakwaja merupakan anak pertama Sang Wretikandayun. Sempakwaja memiliki dua adik, yaitu Rahyang Kedul dan Rahyangtang Mandiminyak. Rahyangtang Mandiminyak sendiri berputrakan Sang Sena; Sang Sena lalu punya anak bernama Rahyang Sanjaya. Sementara itu, Sang Wretikandayun adalah putra bungsu dari Kandiawan. Ada pun keempat kakak Wretikandayun adalah Rahyangtang Kulikuli, Rahyangtang Surawulan, Rahyangtang Pelesawi, dan Rahyangtang Rawunglangit. Wretikandayun lalu memerintah di Galuh selama 90 tahun, 612 hingga 702 M. Ia menikah dengan putri Bagawat Resi Makandria, Pwah Bungatak Mangalengale.
Sebelum membahas Rahyang Sempakwaja, ada baiknya kita telusuri leluhur tokoh ini. Menurut CP, tersebutlah seorang penguasa Kendan bernama Sang Resi Guru. Resi Guru memiliki anak bernama Rajaputra.Rajaputra memiliki anak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati.Sang Kandiawan menyebut dirinya Rahyangta Dewaraja. Ketika muda ia menempati daerah Medangjati, maka disebut Rahyangta di Medangjati. Ketika menjalani kehidupan sebagai rajaresi/pertapa di Lajuwatang di Kuningan, ia bergelar Sang Lajuwatang. Kandiawan inilah yang kemudian menggantikan Rajaputra (dalam naskah lain tokoh Rajaputra ini disebut Suraliman).
Tersebutlah suatu hari, Sang Resi Guru di Kendan kedatangan Bagawat Resi Makandria yang mengeluh karena tak punya anak dan belum beristri. Sang Resi Guru menyarankan Resi Makandria agar pulang kembali ke pertapaan. Setelah itu, Resi Guru menyuruh anak gadisnya, yakni Pwah Aksari Jabung, untukmendatangi Bagawat Resi Makandria di pertapaannya. Sesampai di sana, Pwah Aksari Jabung tidak diakui calon istri oleh Makandari. Pwah Aksari Jabung lalu menjelma sebagai bidadari cantik, menyerupai sosok Pwah Manjangandara. Melihat itu, segera Resi Makandria menjadikan dirinya Kebowulan. Keduanya lalu berhubungan intim. Ada yang menarik, bahwa pada kedua nama itu terdapat nama binatang, yakni kebo “kerbau” dan manjangan “menjangan”.
Sementara itu, Sang Resi Guru menyuruh putrinya satu lagi, Pwah Sanghiang Sri, untuk pergilah menitiske Pwah Aksari Jabung, kakaknya. Setelah Pwah Sanghyang Sri menitis, lahirlah Pwah Bungatak Mangalengale sebagai anak Bagawat Resi Makandria. Kelak, Pwah Bungatak Mangalengale dinikahi oleh Sang Wretikandayun.
Karena Rahyang Sempakwaja dan Rahyang Kedul memiliki kekurangan fisik, yang menjadi raja Galuh selanjutnya adalah Rahyangtang Mandiminyak. Sempakwaja ini bergigi ompong (sempakwaja berarti “bergigi ompong”) lalu menjadi pendeta di Galunggung, bergelar Batara Dangiang Guru. Sedangkan Rahyang Kidul menderita kemir (hernia), maka memilih menjadi pendeta di Denuh dengan gelar Batara Hyang Buyut di Denuh. Status Denuh, dalam FCP, setingkat dengan Galungung, yang langsung bertanggung jawab kepada Tohaan di Sunda. Selain Galunggung dan Denuh, ada sepuluh wilayah lain yang langsung berada dalam wibawa Tohaan di Sunda dan harus mengirim pamwat (upeti) ke Pakuan, yakni: Sanghyang Talaga Warna, Mandala Cidatar, Gegergadung, Windupepet, Galuh Wetan, Mandala Utama Jangkar, Mandala Pucung, Reuma, Lewa, dan Kandangwesi.
CP menceritakan bahwa Sang Resi Guru-lah yang membangun kota di sekitar Galunggung, sebuah gunung berapi yang tinginya 2.167 m dpl, 17 km dari pusat Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sang Wulang-Sang Tumanggal-Sang Pandawa: Triumvirate di Kuningan

Setelah menempati Galunggung, Rahyang Sempakwaja bergelar Batara Dangiang Guru. Galunggung sendiri, menurut FCP, termasuk salah satu wilayah kekuasaan Trarusbawa atau Tarusbawa Maharaja Sunda di Pakuan, di mana harus setiap tahun menyerahkan “pamwat”, semacam upeti, ke Pakuan. Dengan begitu, bisa kita simpulkan bahwa Galunggung merupakan “provinsi” atau “vasal” dari Kerajaan Sunda. Rahyang Sempakwaja memiliki istri bernama Pwah (Pwahaci) Rababu. Pernikahan mereka melahirkan dua orang anak: Rahyang Purbasora (lahir 505 Saka/670 M) dan Rahyang Demunawan alias Sang Seuweukarma (lahir 568 Saka/673 M). Pernikahan mereka tertimpa badai ketika Pwah Rababu diketahui berhubungan gelap dengan Mandiminyak, adik iparnya sendiri, sehingga melahirkan seorang anak bernama Sang Salah atau Sang Senna (Bratasenawa) yang lahir pada 583 Saka atau 687 M. Senna inilah yang menggantikan Mandiminyak menjadi raja di Galuh. Ketika bertakhta, Senna diserang oleh Rahyang Purbasora, lalu menyingkir ke Gunung Merapi. Di sinilah Rakeyan Jambri alias Rahyang Sanjaya lahir.
Ada pun adik Rahyang Sempakwaja sekaligus kakak Mandiminyak, yaitu Rahyang Kedul atau Resiguru di Denuh berputrakan Ki Balangantrang. Suatu saat, Rahyangtang Kedul kedatangan Rakeyan Jambri yang meminta perlindungan kepadanya dari orang-orang Galuh. Rahyangtang Kedul, kakak dari kakek Jambri, keberatan akan permohonan Jambri, karena takut akan kedatangan orang Galuh.Ia menyarankan Rakeyan Jambri untuk menemui Sang Wulan, Sang Tumanggal, dan Sang Pandawa—triumvirate penguasa Kuningan untuk memohon bantuan/perlindungan. Jelas di sini, bahwa Kuningan merupakan kerajaan merdeka, setidaknya sejak abad ke-7 M, dan sedikit lebih tua daraipada Saunggalah. Namun ketika diberitahu bahwa Jambri merupakan anak Senna, Rahyangtang Kedul menyarankan Rakeyan Jambri untuk menemui Tohaan di Sunda. Sang Rahyangtang mewanti-wanti, bahwa seandainya Jambri tak menepati janji kepadanya, niscaya kemenangan tak bakal diraih oleh Rakeyan Jambri.
Menilik nama ketiga penguasa Kuningan di atas, dapatlah diperkirakan bahwa Kuningan bukanlah sebuah kerajaan. Ini dapat dibedakan dengan status pakwan atau Pakuan dan Galuh yang selalu diperintah oleh seseorang yang gelarnya merujuk pada status raja seperti maharaja, prebu, atau rahyang. Gelar “sang” pada Sang Wulan, Sang Tumanggal, dan Sang Pandawa menunjukkan status meeka sebagai bawahan Kemaharajaan Sunda saat itu. Bila demikian adanya, maka Kuningan berada dalam wilayah Galunggung, dan Galunggung termasuk ke dalam wilayah administrasi Pakuan pada masa Maharaja Tarusbawa.

Kuningan di bawah Batara Dangiang Guru

Di Kerajaan Sunda, Rakeyan Jambri diangkat mantu oleh Tohaan Sunda, Maharaja Tarusbawa. Dari Sunda, ia pergi menemui Rabuyut Sawal guna meminjam pustaka Retuning Bala Sarewu, sebuah kitab pedoman militer, guna mengalahkan Rahyang Purbasora di Galuh. Setelah membawa pustaka itu, Rakeyan Jambri berperang dan berhasil mengalahkan Purbasora. Jadilah Jambri menguasai Galuh baru, dengan gelar baru: Rahyang Sanjaya.
Namun Rahyang Sanjaya belum mengangkat dirinya menjadi Raja Galuh. Ia mengutus patihnya pergi menemui Batara Dangiang Guru alias Rahyang Sempakwaja, adik Rahyang Purbasora, untuk menanyakan perihal siapa yang berhak menjadi raja di Galuh. Batara Dangiang Guru, sebagai ujian atas kemampuan Rahyang Sanjaya, memerintahkan:
Rahyang Sanjaya, pergilah oleh dirimu sendiri. Kalahkan Guruhaji Pagerwesi, kalahkan Guruhaji Mananggul, kalahkan Guruhaji Tepus, dan kalahkan Guruhaji Balitar. Pergilah Rahyang Sanjaya, kalahkan Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Mereka punya kesaktian, yang menyebabkan Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan tak bisa dikuasai Dangiang Guru. Kalau terkalahkan, kamu memang sakti.

Nyatanya Sanjaya kalah dalam berperang melawan triumvirate Sang Wulan-Tumanggal-Pandawa, lalu pulang ke Galuh. Kemudian ketiga penguasa Kuningan membawa persembahan berupa sesaji, palangka (tempat duduk dari batu), sejumlah kerbau, dan beras secukupnya kepada Dangiang Guru. Mengetahui bahwa penguasa Kuningan menghomatinya dan membawa persembahan sebagai tanda “takluk”, maka Dangiang Guru memerintah Sanjaya untuk membawa sesajian yang serupa sebagai tanda “takluk” pula. Keputusan pun diambil oleh Dangiang Guru untuk menghindari perang antara Sanjaya dengan penguasa Kuningan. Kuningan sendiri dikuasai oleh Dangiang Guru. Ada pun Sang Wulan diangkat oleh Dangiang Guru menjadi Guruhaji di Kajaron. Sang Tumanggal diangkat menjadi Guruhaji Kalanggara di Balamoha. Sang Pandawa di Kuningan diangkat jadi Guruhaji Lajuwatang. Sang Puki jadi Guruhaji di Pagerwesi. Sang Manisri dijadikeun Buyuthaden (Padarangan) Rahasea di Puntang. Buyuthaden Tujungputih di Kahuripan. Buyuthaden Sumajajah di Pangajahan. Buyuthaden Pasugihan di Batur. Buyuthaden Padurungan di Lembuhuyu. Buyuthaden Darongdon di Balaraja. Buyuthaden Pagergunung di Muntur. Buyuthaden Muladarma di Parahyangan. Buyuthaden Batuhiang di Kuningan. Sementara itu, Rahyang Sanjaya resmi diangkat menjadi penguasa Medang Ratu di Galuh. Istilah “buyut haden” dapat ditafsirkan sebagai wilayah setingkat kabupaten, yang dibawahkan oleh kerajaan.
Mengenai statusnya, tak ada keterangan apakah wilayah Kuningan pada masa Sang Wulan-Tumanggal-Pandawa dan juga masa Batara Dangiang Guru adalah wilayah sima atau perdikan yang dibebaspajakkan.
Setelah pembagian wilayah tersebut, Batara Dangiang Guru digantikan Rahyangtang Kuku, tahun 723. Ada pun Layuwatang, tempat Sang Pandawa menjadi guruhaji, kini diperkirakan berada di Desa Rajadanu, Kecamatan Japara, Kab. Kuningan.
Dalam teks Bujangga Manik, nama Kuningan pun disebutkan oleh tokoh bersangkutan ketika berjalan menuju timur (Balungbungan/Blambangan) dari barat (Pakuan) dalam rangka berziarah. Di sebutkan bahwa setelah:  “… Gunung Ceremay telah kutinggalkan. Timbang dan Hujung Barang, Kuningan Darma Pakuan, semua tempat itu telah kulalui. Setelah tiba di Luhur Agung, aku menyeberangi Sungai Cisinggarung. Tibalah di Ujung Sunda …” Dari teks awal abad ke-16 ini kiranya kita ketahui bahwa pada nama Kuningan terdapat embel-embel “Darma Pakuan”. Sangat memungkinkan bahwa pada suatu periode pada nama Kuningan ditambahi frase “Darma Pakuan”, mengingat hubungan kesejarahannya dengan ibukota Pakuan Pajajaran begitu erat. Juga terbukti, bahwa “Kuningan Darma Pakuan” merupakan salah satu kota yang cukup berarti dalam sejarah perpolitikan di Tanah Parahyangan.
Rahyangtang Kuku alias Sang Seuweukarma alias Sang Maniti Saungkalah

Rahyangtang Kuku lahir di Patapan—begitu CP memberitakan. Gelar Rahyangtang Kuku setelah menjadi “Tohaan di Kuningan” di Arile adalah Sang Seuweukarma, yang juga disebut Demunawan. Pada masa pemerintahannyalah, letak ibukota Kerajaan berada di Saunggalah atau Saungkalah menurut teks CP. Lokasi Saunggalah ini diperkirakan kini berada di Kampung Salia, Desa Ciherang, Kecamatan Nusaherang, Kuningan—ada pula yang menunjuk Desa Ciherang di Kec. Kadugede, kecamatan tetangga Nusaherang.
CP menuturkan banyak wilayah yang telah diperangi dan ditaklukkan Rahyangtang Kuku, yakni:
1.         Rahyangtang Luda di Puntang,
2.         Rahyangtang Wulukapeu di Kahuripan,
3.         Rahyangtang Supremana di Wiru,
4.         Rahyang Isora di Jawa (Balitar),
5.         Sang Ratu Bima di Bali.
6.         Rahyangtang Gana ratu di Kemir,
7.         Sang Sriwijaya di Malayu,
8.         Sang Wisnujaya di Barus,
9.         Sang Bramasidi di Keling,
10.     Sang Kandarma di Berawan,
11.     Sang Mawuluasu di Cimara Upatah,
12.     Sang Pacadana ratu di Cina.
Keberhasilan Rahyangtang Kuku alias Seuweukarma, yang juga bergelar Sang Maniti Saungkalah, karena keteguhannya dalam mengamalkan ajaran Dangiang Kuning. Melihat keberhasilan penguasa Kuningan itu, Rahyang Sanjaya merasa iri, lalu mengutus patihnya menghadap Rahyangtang Kuku. Sanjaya ingin menyelidiki apakah Rahyangtang Kuku benar-benar diakui oleh rakyat Kuningan sebagai penguasa.
Oleh Rahyangtang Kuku dijelaskan bahwa dirinyalah memang penguasa dan yang diagung-agungkan oleh kawula Kuningan. Menurutnya, tak mungkin Rahyang Sanjaya seperti dirinya, dipuja-puja rakyat, karena Rahyang Sanjaya gemar membunuh sesama saudara. Namun begitu, Rahyangtang Kuku tak ingin mengganggu dan diganggu oleh Sanjaya. Sekembalinya ke Galuh, sang patih melapor pada Rahyang Sanjaya. Dikatakan olehnya kepada Sanjaya, bahwa Rahyangtang Kuku adalah seorang yang gemar bertapa, menguasai Sanghyang Darma dan Sanghyang Siksa, mematuhi ajaran Sang Rumuhun (ajaran leluhur?). Dikatakan oleh Aki Patih, bahwa seyogyanya antara Rahyang Sanjaya dan Rahyangtang Kuku terjalin kerjasama dan saling menghormati, karena keduanya sama-sama keturunan dewata.
Atas saran patihnya pula, Rahyang Sanjaya pergi menaklukkan wilayah-wilayah lain sebagai bukti bahwa dirinya pun mampu menguasai ajaran-ajaran yang dikuasai oleh Rahyangtang Kuku. CP memberitakan bahwa Sanjaya berhasil mengalahkan Mananggul, Kahuripan, Balitar, Malayu, Kadul, Bali, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Di antara tempat-tempat taklukan ini, terdapat sejumlah wilayah yang telah ditaklukkan Rahyangtang Kuku sebelumnya.
Beberapa lama kemudian, Rahyangtang Kuku menemui Sanjaya di Galuh, membicarakan soal pembagian wilayah. Karena Sanjaya juga tak ingin berseteru dengan saudaranya itu, maka ia berkata: “Kini kita tetapkan: tanah bagian Dangiang Guru di tengah; bagian Rahyang Isora ti timur, sampai ke utara Paraga dan Cilotiran; dari barat Tarum hingga barat adalah wilayah Tohaan di Sunda.” Dalam perjanjian tersebut telah terjadi pegeseran status: Galunggung menjadi setingkat dengan wilayah Tohaan di Sunda. Untuk memastikan hal ini diperlukan penelitian khusus tentunya, jadi takkan dibahas di sini.
Setelah pembagian dipetakan oleh Sanjaya, Rahyangtang Kuku kembali ke Arile, tak lama kemudian meninggal dalam usia yang telah sepuh. Ada pun Sanjaya menasehati anaknya, Rahyang Panaraban alias Rahyang Tamperan: “Jangan ikut agamaku, karena itu aku ditakuti orang banyak.” Setelah menjadi raja Galuh selama 9 tahun, Sanjaya digantikan oleh Tamperan.
Berbicara mengenai keberadaan Saunggalah, ada sebuah naskah Sunda Kuno lain yang memuat nama Saunggalah, yakni Bujangga Manik yang ditulis pada awal abad ke-16. Dikisahkan, ketika tokoh Bujangga Manik pulang dari timur (alas Jawa) hendak ke barat, dirinya tiba di Hujung Galuh, “berjalan ke Geger Gadung, aku menyeberangi Sungai Ciwulan, berjalan terus aku ke baratlaut. Sesampai ke Saung Galah, lalu pergi dari sana, Saung Galah telah kutelusuri, Gunung Galunggung kulewati, Panggarangan sudah kulewati, melalui Pada Beunghar, Pamipiran di belakangku. Melewati Timbang Jaya, tiba ke Gunung Cikuray, kuberjalan menurun di sana, datang ke Mandala Puntang….”
Bila memperhatikan rute Bujangga Manik dari timur ke barat di atas, jelas bahwa lokasi Saunggalah berada di antara Sungai Ciwulan (kini Sungai Cibulan atau Cikembulan) dengan Gunung Galunggung, dan berada di utara Geger Gadung (kini Sela Gadung).
Sang Rakeyan Darmasiksa, Titisan Sanghyang Wisnu

Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan memberitakan bahwa ada seorang penguasa Sunda yang meminta ditempatkan di Saunggalah. Orang itu adalah Sang Rakeyan Darmasiksa atau Prabu Guru Darmasiksa (1175-1297 M) versi naskah Wangsakerta. Ia adalah generasi ke-9 dari Maharaja Harisdarma atau Rahyang Sanjaya, menantu Maharaja Trarusbawa. Ia putra dari Sang Lumahing Winduraja dan cucu dari Sang Lumahing Tasik Panjang. Melihat gelarnya, rakeyan, jelas bahwa ia bukan merupakan raja seperti halnya Rahyang Sanjaya atau Maharaja Tarusbawa. Gelar rakeyan, yang dalam tradisi Jawa disebut rakryan, merupakan gelar jabatan bagi birokrat di bawah jabatan rahyang atau rahyangtang atau prebu atau maharaja.
Berikut silsilah Rakeyan Darmasiksa dari Maharaja Harisdarma dalam FCP (terjemahannya):
Maharaja Harisdarma berputrakan Rahyang Tamperan / Rahyang Tamperan berputrakan Rahyang Banga / Rahyang Banga berputrakan Rahyangta Wuwus / Rahyangta Wuwus berputrakan Prebu Sanghyang / Prebu Sanghyang berputrakan Sang Lumahing Rana / Sang Lumahing Rana berputrakan Sang Lumahing Tasik Panjang / Sang Lumahing Tasik Panjang berputrakan Sang Winduraja / Sang Lumahing Winduraja berputrakan Rakeyan Darmasiksa.

Rakeyan Darmasiksa sendiri yang meminta dirinya ditempatkan di Saunggalah kepada Batara Dangiang Guru (padahal jarak masa hidup kedua tokoh tersebut bertautan lima abad). Letak Saunggalah sendiri diceritakan berada di “selatan Gegergadung, Geger Handiwung, Pasir Taritih yang bermuara di Cipager Jampang.”Dikisahkan Rakeyan Darmasiksa bertakhta di Saunggalah selama 12 tahun. Setelah itu, ia pindah ke Pakuan, bertakhta di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, dan memerintah selama 110 tahun di Pakuan Pajajaran.
Memeh angkat ka Pakwa(n) ngadegkeun premana di Saunggalah ku Rak[y]ean Darmasiksa. Ti inya angkat sabumi ka Pakwan. Datang ka Pakwan mangadeg di kadaton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. ….Kacarita Rak[y]ean Darmasiksa heubeul siya ngadeg di Pakwan saratus sapuluh tahun. Heubeul siya adeg ratu di Pakwan Pajajaran, pun.

Di sini perlu diperhatikan pula kata-kata “ngadegkeun premana di Saunggalah”, yang bisa diartikan sebagai “mendirikan tempat istimewa di Saunggalah”. Apakah ini berarti bahwa oleh Rakeyan Darmasiksa Saunggalah dijadikan ibukota? Atau ia hanya mendirikan semacam tempat kabuyutan, yang oleh CP disebut Sanghyang Binajapanti? Bila benar yang terakhir, maka status Saunggalah tidak pernah menjadi ibukota, melainkan tetap begitu adanya sejak masa Rahyangtang Kuku—berada dalam wilayah Galunggung.
Ayah Rakeyan Darmasiksa sendiri menurut naskah Wangsakerta adalah Prabu Dharmakusumah (1157-1175), seorang raja Sunda yang berkedudukan di Kawali, atau Sang Lumahing Winduraja (Yang Didarmakan di Winduraja) menurut FCP. Menurut teks Wangsakerta, Rakeyan Darmasiksa memerintah di Saunggalah karena menggantikan mertuanya yang merupakan penguasa Saunggalah (entah siapa namanya), karena ia menikan dengan putri Saunggalah. Ketika Darmasiksa memerintah di Pakuan, Saunggalah diberikan kepada putranya yang bernama Ragasuci (FCP menyebutnya Rajaputra). Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki Rahyantang Saunggalah (1175-1298). Ia memperistri Dara Puspa, putri seorang raja Melayu. Pada 1298 M, Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya (1298-1304). Kedudukannya di Saunggalah digantikan putranya bernama Citraganda.
Pada masa Citraganda, menurut naskah Wangsakerta, Pakuan untuk kesekian kalinya menjadi ibukota Kerajaan Sunda Poesponegoro (2008: 384-385) menafsirkan bahwa sosok Darmasiksa tak lain adalah tokoh Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwana Mandaleswaranindhita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, penguasa “Prahajyan Sunda”. Nama terakhir ini tertulis dalam Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di Kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang di tepi Sungai Citatih, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, berasal dari 952 Saka atau 1030 M, berbahasa dan berhuruf Jawa Kuno. Identifikasi tersebut dilakukan atas dasar sejumlah petunjuk bahwa kedua tokoh tersebut penganut Hindu Waisnawa atau Wisnu. CP memberitakan, bahwa Sang Rakeyan Darmasiksa merupakan titisan Sanghyang Wisnu, yang membangun Sanghyang Binajapanti. Begitu pula rupanya Sri Jayabhupati, sama-sama penganut Wisnu, terlihat dari gelarnya: Wisnumurti Haro Gowardhana.
Selain itu, alasan Poesponegoro menyamakan kedua tokoh tersebut adalah karena keduanya pernah melakukan peresmian kawasan keagamaan. Rakeyan Darmasiksa, menurut CP, membangun Sanghyang Binajapanti, yakni panti atau kabuyutan yang diperuntukkan bagi sang rama (sesepuh masyarakat), sang resi (kaum agamawan), sang disri (peramal), sang tarahan (pelaut) di Parahyangan. Maka dari itu, raja ini sangat lama memerintah—150 tahun, sebagaimana lazimnya raja-raja Sunda yang panjang umur dan lama masa berkuasanya—karena mempraktikkan jati Sunda, mengimani Sanghyang Darma, serta mengamalkan Sanghyang Siksa. Begitu pula halnya Sri Jayabhupati. Berdasarkan teks pada Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri atas 40 baris dalam 4 buah batu, pada 1030 M Sri Jayabhupati membuat sebuah tepek (semacam daerah larangan) di sebelah timur Sanghyang Tapak. Daerah larangan itu berupa sebagian sungai yang dinyatakan tertutup bagi segala macam penangkapan ikan. Ada pun batas-batas wilayah laranga itu ditetapkan: berbataskan Sanghyang Tapak tempat pemujaan di hulu, di hilir berbataskan Sanghyang Tapak tempat pemujaan di mana terdapat dua buah batu besar.
Prasasti ini menyebutkan adanya ritual pemujaan terhadap tapak kaki. Pemujaan terhadap telapak kaki bukanlah yang aneh di Nusantara. Di Nias, misalnya, ditemukan beberapa buah batu dengan pahatan telapak kaki. Juga di Desa Pasir Panjang, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, terdapat telapak kaki yang diangggap sebagai telapak kaki Sang Buddha, di mana di dekatnya terdapat sebuah prasasti berbahasa Sansekerta dan beraksara Nagari berisi pemujaan terhadap kaki Buddha Gautama. Di Jawa Barat sendiri terdapat Prasasti Jambu, prasasti peninggalan masa Tarumanagara yang padanya tertera cetakan telapak kaki, yang dikatakan sebagai telapak Sri Purnawarman. Ada pun Sanghyang Tapak yang dimaksud oleh prasasti itu adalah telapak kaki yang terpahat pada batu di puncak Gunung Perbakti di Cicurug, Sukabumi. Prasasti ini kemudian berisi kutukan bagi siapa saja yang melanggar ketentuan: kepalanya terbelah, darahnya diminum, ususnya terpotong, otaknya terisap, dadanya terbelah—sebuah sumpah yang sangat keras dan mengerikan. Hingga kini, warga di sekitar sungai ini masih enggan untuk mandi di situ.
Akan tetapi, penyamaan antara kedua tokoh itu hanyalah tafsiran yang belum tentu kebenarannya.  Patut dijadikan catatan bahwa Prasasti Sanghyang Tapak berbahasa dan beraksara Kawi (Jawa Kuno) sedangkan prasasti itu berada di wilayah Sunda. Ada yang menyatakan bahwa Sri Jayabhupati merupakan bawahan Airlangga, maka dari itu ia merasa harus mempergunakan bahasa Jawa sebagai bahasa protokoler-resmi dalam membuat prasasti, dan bukan kebetulan kedua orang itu hidup pada abad yang sama, abad ke-11 M. Ada pula yang menilai sebaliknya, bahwa Sri Jayabhupati adalah musuh Airlangga, terlihat dari kata jayamanahen yang berarti peringatan bahwa ia telah berhasil mengalahkan seterunya, yakni Airlangga. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa di antara keduanya tak terdapat hubungan apa pun, meski kesamaan nama gelar bisa saja terjadi karena silang budaya. Harus diingat bahwa pada masa itu, tahun 1030 M, Airlangga, yang bergelar Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, tengah sibuk mengalahkan lawan-lawan politiknya (Raja Wijaya dari Wengker baru ditundukkan Airlangga pada 1035 M).
Terlepas dari hubungannya dengan Airlangga, jelas Sri Jayabhupati begitu menekankan bahwa dirinya adalah penguasa Sunda “haji i sunda” sebagai usaha meyakinkan warga Sunda bahwa dirinyalah penguasa sah. Adat seperti ini tentu tak lazim dalam sejarah perpolitikan Sunda Kuno. Tak ada kalimat dalam prasasti mana pun di Jawa Barat yang bunyinya seperti prasati keluaran Jayabhupati tersebut. Juga, tak ada ditemukan prasasti di kawasan Parahyangan yang menyebutkan sejumlah hukuman dan kutukan seperti yang tertulis pada Prasasti Sanghyang Tapak (kecuali prasati peninggalan Dapunta Hyang penguasa Sriwijaya di Sumatra). Yang paling masuk akal, begitu Poesponegoro menyatakan, sangat mungkin Sri Jayabhupati merupakan orang yang sadar bahwa dirinya seorang yang berbudaya lain di tengah penduduknya yang bebudaya Sunda (2008: 385). Dalam hal ini, kemungkinan besar ia seorang pembesar dari Jawa. Lagi pula, apa tidak berlebihan bila kita tafsirkan bahwa Sri Jayabhupati merupakan penganut mazhab Tantrayana bila merujuk pada kalimat-kalimat kutukan pada prasasti tersebut?
Bila kita merujuk pada teks Pustaka Nusantara Parwa III Sarga I (naskah Wangsakerta) akan diperoleh keterangan yang sangat jelas bahwa tokoh Jayabhupati tidak identik dengan Rakeyan Darmasiksa. Disebutkan bahwa Sri Jayabhupati memerintah antara tahun 1019-1042, sedangkan Rakeyan Darmasiksa memerintah di Saunggalah antara tahun 1175-1187 dan di Pakuan tahun 1187-1297; jadi terbentang selang satu abad lebih antara masa hidup dua tokoh tersebut. Bila kita cocokkan masa pemerintahan Sri Jayabhupati dengan masa pemerintahan seorang raja Sunda dalam CP, maka kita dapati tokoh Prebu Ditya Maharaja yang memerintah selama 23 tahun. Sayang, CP tak menyebutkan tahun-tahun raja-raja Sunda itu memerintah, hanya menuliskan lamanya berkuasa. Tertulis dalam CP, ada dua orang raja yang memerintah di wilayah Sunda antara masa Prebu Ditya Maharaja dengan masa Darmasiksa, yaitu Sang Lumahing Kreta (lamanya 92 tahun) dan Sang Lumahing Winduraja (lamanya 18 tahun).  Jadi, ada selang 110 tahun antara masa pemerintahan Detya Maharaja dengan Rakeyan Darmasiksa. Terdapat pula catatan dalam naskah Wangsakerta tersebut bahwa Sri Jayabhupati adalah saudara ipar dengan Sri Airlangga.
Amanat Rakeyan Darmasiksa

Kita mengetahui ada naskah Sunda Kuno lain yang berisi ajaran dalam menjalani hidup, yang oleh Saleh Danasasmita di beri judul Amanat Galunggung atau kadang disebut Naskah Kabuyutan Ciburuy (karena ditemukan di sekitar Desa Ciburuy, Kec. Bayongbong, Garut, Jawa Barat). Di Perpustakaan Nasional, naskah ini diberi titel Kropak 632. Naskah ini berbahasa dan beraksara Sunda Kuno, ditulis sekitar abad ke-15, lebih tua dari CP maupun Sanghyang Siksakanda ng Karesian.
Dalam naskah ini disebutkan bahwa sepatutnya masyarakat sekitar memegang teguh ajaran leluhur, menjaga kabuyutan, memelihara wilayah Galunggung, mempertahankan kabuyutan saat perang berlangsung, dan menjaganya dari tangan orang asing. Barangsiapa yang bias mempertahankan kabuyutan, niscaya ia akan menang dalam peperangan, akan panjang umur, pertanian akan subur, ahli strategi akan ungul dalam jurit/perang. Diterangkan pula sejumlah larangan: jangan malas, jadi lekas marah, jangan menghina orang lain, jangan mudah terbawa pengaruh, dan larangan-larangan lain.
Dalam naskah ini jelas disebutkan bahwa Rakeyan Darmasiksa-lah yang membuat aturan-aturan yang oleh keturunannya ajaran-ajarannya dituliskan pada naskah tersebut. Pun Pustaka Nusantara II/2 yang  menyebutkan bahwa Prabuguru Darmasiksa pernah memberikan nasihat kepada cucunya, Raden Wijaya pendiri Majapahit. Naskah Wangsakerta secara eksplisit menerangkan bahwa raja-raja Jawa adalah keturunan Sunda, terhitung sejak masa Rahyang Sanjaya pendiri Medang I Bhumi Mataram. Pepatah tersebut berisi: orang Wilwatikta (Majapahit) dilarang menyerang wilayah Sunda karena masih terikat pertalian saudara dan seyogyanya raja Jawa dan raja Sunda saling menghormati. Jika masing-masing memerintah sesuai dengan haknya maka akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna.
Kuningan dalam Tradisi Lisan

Tak ada keterangan tertulis yang menjalsakan siapa penguasa Saunggalah pasca Ragasuci dan Kuningan pasca Batara Dangiang Guru. Tradisi-tradisi lisan di Kuningan hanya menyebut-nyebut kisah tentang keberadaan Kuningan sebagai sebuah wilayah administrasi yang bukan kerajaan. Maka dari itu, alangkah baiknya bila penelusuran “dialihkan” ke arah Kuningan saja, yang notabene di mana wilayah Saunggalah pun berada di wilayah Kuningan sekarang.
Sekitar abad-15 M terkenal dua lokasi yang memunyai kegiatan pemerintahan di Kuningan, yaitu Luragung dan Kajene. Pusat pemerintahan Kajene terletak di Desa Sidapurna Kecamatan Kuningan sekarang. Saat itu, baik Luragung maupun Kajene bukan lagi merupakan sebuah kerajaan melainkan sebatas buyut haden. Nama Luragung mengingatkan kita pada nama wilayah yang dilalui Bujangga Manik setelah berlalu dari Kuningan Darma Pakuan, yakni Luhur Agung. Dipastikan, Luragung merupakan penyederhanaan dari kata Luhur Agung.
Pada abad ke-15 inilah dimulailah tampilnya tiga tokoh: Arya Kamuning, Ki Gedeng Luragung, dan kemudian Sang Adipati Kuningan sebagai pemimpin Kajene, Luragung, dan kemudian Kuningan. Mereka, secara bergiliran berada di bawah kekuasaan Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Djati, penguasa Cirebon.
Ada sejumlah versi yang menerangkan sosok Adipati Kuningan. Versi pertama: Sang Adipati Kuningan adalah putra Ki Gedeng Luragung, yang kemudian dipungut sebagai anak oleh Sunan Gunung Jati. Dia lalu dititipkan oleh ayah angkatnya, Sunan Gunung Jati, kepada Arya Kamuning untuk dibesarkan dan dididik. Selanjutnya, Adipati Kuningan menggantikan kedudukan Arya Kemuning. Versi kedua: Sang Adipati Kuningan adalah putra Ratu Selawati, keturunan Prabu Siliwangi, dari pernikahannya dengan Syekh Maulanan Arifin.
Bila merujuk pada naskah Wangsakerta yang ditulis abad ke-17, maka didapati bahwa tokoh Sang Adipati Kuningan berkaitkan dengan Ratu Selawati dan bahwa agama Islam menyebar ke Kuningan melalui upaya Syek Maulana Akbar atau Syek Bayanullah. Syek Maulana Akbar adalah adik Syekh Datuk Kahpi yang bermukim dan membuka pesantren di kaki bukit Amparan Jati (Cirebon). Syekh Maulana Akbar membuka pesantren pertama di Kuningan, yaitu di Desa Sidapurna sekarang, ibukota Kajene. Ia menikah dengan Nyi Wandansari, putri Surayana. Ada pun Surayana adalah putra Prabu Dewa Niskala atau Prabu Ningrat Kancana, Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali (1475-1482) yang menggantikan kedudukan ayahnya Prabu Niskala Wastu Kancana (dalam CP tokoh Niskala Wastu Kancana disebut juga sebagai Prabu Wangi). Dari pernikahannya dengan Nyi Wandansari membuahkan seorang putra bernama Maulana Arifin, yang kemudian menikah dengan Ratu Selawati. Ratu Selawati bersama kakak dan adiknya, yaitu Bratawijaya dan Jayakarsa, adalah cucu Prabu Maharaja Niskala Wastu Kancana. Bratawijaya kemudian memimpin di Kajene dengan gelar Arya Kamuning. Sedangkan Jayaraksa memimpin masyarakat Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung. Mereka bertiga—Ratu Selawati, Arya Kamuning (Bratawijaya), Ki Gedeng Luragung (Jayaraksa)—diIslamkan oleh uwaknya, Pangeran Walangsungsang.
Sang Adipati Kuningan yang sesungguhnya bernama Suranggajaya adalah anak dari Ki Gedeng Luragung. Atas prakarsa Sunan Gunung Jati dan istrinya yang berdarah Cina, Ong Tin Nio, yang sedang berkunjung ke Luragung, Suranggajaya diangkat anak oleh mereka. Tetapi pemeliharaan dan pendidikannya dititipkan pada Arya Kamuning. Arya Kamuning sendiri dikabarkan tidak memiliki keturunan. Akhirnya Suranggajaya diangkat jadi adipati oleh Susuhunan Jati, menggantikan bapak asuhnya. Pelantikan Suranggajaya dilakukan pada tanggal 4 Syura (Muharam) tahun 1498 Masehi. Penanggalan tesebut bertempatan dengan tanggal 1 September 1498. Tanggal inilah, hari pelantikan Suranggajaya menjadi Adipati Kuningan, sejak 1978, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan.
Salam Nusantara….Rahayu..Ahuuunngg !!!
Diemas Dhamardjati

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: