Sudah Mulia Kah Anda Dengan Ibadah Anda?

Ujian hidup, datang tiba-tiba. Yang ternilai adalah, apakah Anda sadar bahwa saat itu adalah sebuah ujian, dan bagaimana sikap Anda untuk menjalani ujian. Di situ lah sesungguhnya kemuliaan seseorang terpancar. Bukan dari ibadah yang setiap hari ia beritahukan kepada orang lain, yang terlihat orang lain. Tapi di saat Anda terlena.

Dalam sebuah acara reality show di televisi, ada seorang aktor yang akan “ngerjain” orang-orang tertentu secara acak. Apabila “korban” mau melaksanakan kegiatan yang diminta oleh si aktor, dia akan mendapatkan hadiah. Kegiatan ini direkam dengan hidden camera.

Pada segmen terakhir, si aktor dengan pakaian yang keren dan mewah mengaku kehilangan dompet. Uang di sakunya tinggal Rp 300,-. Padahal ia ingin membeli teh botol seharga Rp 800,-. Dia berkeliling mencari mangsa yang mau dimintai uang Rp 500,-. Malang, banyak orang menolaknya. Bahkan, mereka memandang dengan rasa curiga. Sampai pada suatu saat si aktor menghampiri seorang pengemis di pinggir jalan. Dibalut pakaian yang sangat lusuh, kedua kakinya tampak cacat.

Sang aktor kemudian menceritakan masalahnya kepada si pengemis. Di luar dugaan, tanpa pikir panjang pengemis itu langsung menyerahkan uang yang diminta. Bayangkan, betapa berharganya uang Rp 500,- bagi si pengemis, namun dengan sukarela ia mau memberikannya kepada orang asing.

Akhirnya, si aktor menjelaskan bahwa sebenarnya acara tersebut adalah acara reality show, dan si pengemis mendapat hadiah. Ketika ditanya mengapa ia rela memberikan uang kepada orang asing, sang pengemis menjawab, “Saya ini sudah bertahun-tahun hidup dari pertolongan orang lain. Orang mungkin sudah menganggap saya sampah masyarakat. Tapi hari ini, saya bangga, karena masih diberi kesempatan menolong orang lain yang membutuhkan.”

Menurut pengakuannya, sejak kecil ia bercita-cita menjadi guru. Tak salah, hari itu cita-citanya tercapai. Sebagai “guru”, ia telah mengajarkan kepada kita apa arti menolong dengan hati, tanpa pamrih. Seorang yang dianggap sampah masyarakat ternyata masih punya impian membantu orang lain.

 

Terima kasih, Pak.

Engkau telah mengejawantahkan arti ketulusan, yang telah lama terbenam di hati kami.

2 Komentar (+add yours?)

  1. boedaksatepak
    Jan 31, 2011 @ 12:54:17

    Suatu pembelajaran tentang artinya hidup dan kehidupan yg sangat luarbiasa,,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: