Negeri Para Ksatria, Para Pandu Bhumi

Sudah menginjak belasan tahun yang lalu, sejak pertama kali aku mendapatkan pelajaran berharga tentang keseimbangan. Pengajaran yang datang tanpa diundang, begitu panjang dan membingungkan. Tapi dalam hatiku, aku mengakui bahwa semua yang “diceritakan” adalah sebuah kebenaran. Lalu aku mulai menggambar. Melanjutkan kegemaranku di waktu kecil, aku pun menggambar tanpa menggunakan pensil, kertas, apalagi pewarna. Menggambar tanpa alat.

Betapa indah bila aku tinggal di sebuah kampung. Bersih, asri walaupun jauh dari kemewahan. Setiap jalan di kampung itu dibuat dengan garis-garis yang lurus, membentuk sebuah pemukiman yang tertata rapi. Setiap rumahnya walaupun tak sama ukuran, namun bisa tersusun sedemikian tertib. Tidak semrawut.

Penduduk di kampung itu benar-benar saling menghargai, menghormati satu sama lain. Tak peduli apa ras, agama, atau bahasanya. Mereka ibarat satu kesatuan manusia yang seharusnya begitulah manusia hidup berdampingan. Tak ada satu pun tempat ibadah dari sebuah agama di kampung ini. Karena bagi mereka, agama hanyalah sebuah cara bagaimana mereka bersyukur kepada Sang Pencipta, dengan bahasa yang mereka mengerti dan benar-benar mereka pahami. Tidak ada paksaan terhadap orang lain untuk mengikuti agama yang mereka anut. Semuanya saling menghargai. Jadi mereka melakukan ibadahnya di rumah masing-masing. Perlu kita perhatikan, setiap orang di kampung ini juga tidak memaksakan agamanya walaupun terhadap anak istri mereka. Namun mereka sangat memaksakan paham bahwa manusia pantang berbuat semua hal yang bisa merugikan pihak lain, saling menghargai, berusaha keras untuk hidup mandiri, berusaha menciptakan cinta kasih, dan yang paling utama adalah selalu berterimakasih kepada Sang Pencipta atas semua yang telah diberiNya, malu terus meminta karena mengerti betul Dia lah yang menjadi Tuhan, bukan kita. Mereka paham, bahwa hidup adalah pengulangan. Siapa menanam, dia menuai. Maka mereka takut berbuat salah, bertindak yang bisa menyakiti makhluk lain. Benar-benar budi pekerti yang luhur.

Namun di tempat-tempat tertentu, terlihat ada semacam punden penuh bunga-bunga dan wewangian. Ya, mereka ternyata sadar bahwa Tuhan menciptakan alam ini tidak hanya untuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Ada makhluk dari golongan lain yang hidup bersama kita walaupun kita tidak bisa melihatnya. Tapi mereka bisa melihat kita. Betapa mereka ini sadar, bahwa telah lama mereka terbelenggu oleh paham picik bahwa jika memberi sesaji kepada makhluk-makhluk halus adalah menyekutukan Tuhan Sang Maha Pencipta. Mereka ini sadar, bahwa makhluk tak kasat mata ini pun adalah makhluk yang hidup. Bukan ruh yang gentayangan. Mereka hidup dengan siklus yang mirip dengan kita. Mempunyai tempat tinggal, beranak pinak, bersosialisasi dengan sesama mereka, juga antar dimensi. Namun kita telah lama menganggap bahwa makhluk-makhluk ini patut disengsarakan, diusir, dimusnahkan. Ya, kita adalah hewan-hewan buas yang maruk dan picik, tapi merasa paling benar dan mulia.

Penempatan punden ini, bagi masyarakat kampung difungsikan sebagai tempat untuk tinggal para makhluk halus. Jadi mereka tidak saling tumpang tindih di tempat yang sama dengan kita. Hanya itu. Bukan tempat untuk memuja, bukan tempat untuk mengeramatkan. Melainkan tempat yang didirikan sebagai wujud pengakuan akan keagungan Tuhan telah menciptakan semua makhluk dan bisa mesra hidup berdampingan. Lagi-lagi hanya itu.

Mereka mempunyai kesadaran, bahwa dalam hidup ini garis nasib setiap manusia berbeda. Begitu pula garis rejeki. Maka setiap orang yang diberi rejeki berlebih (jerih payahnya lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya), sangat menyadari bahwa dirinya mendapatkan tugas dari Sang Pencipta untuk memberikan kelebihan itu pada sesamanya. Malu ia hidup bermewah-mewah ketika ada orang lain di kampungnya yang masih kebingungan cari makan. Begitu juga bagi yang merasa dirinya lebih kuat dari orang lain, maka ia malu jika dirinya tak bisa berbuat banyak untuk menolong sesama dengan menggunakan kekuatan badannya. Bagi yang merasa dirinya pandai dalam bidang-bidang tertentu, malu jika ia tak bisa menularkan kepandaiannya kepada sesamanya. Manusia yang merasa bahwa kelebihannya adalah hasil jerih payah pribadinya sendiri, dan ingin menyimpannya sendiri agar ia terlihat lebih hebat, lebih mewah, maka tak pantas hidup di tengah masyarakat. Sangat pantas ia dijauhi, dikucilkan, karena memang sesungguhnya ia sudah tak terpakai.

Di kampung itu, terdapat sebuah tanah luas. Berdiri sebuah bangunan besar namun tak mewah. Di situlah mereka menempa anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang tangguh. Tidak ada cerita setiap siswa harus membayar untuk bisa belajar. Semuanya dikelola secara gotong royong oleh masyarakat kampung. Di situ mereka mendapatkan pengajaran dan pendidikan tentang keluhuran budhi, mencintai tanah airnya, dan bagaimana setiap siswa bisa bertahan hidup dengan menggunakan keterampilan masing-masing. Para guru mendermakan seluruh pengetahuannya. Kehidupannya menjadi tanggungan seluruh masyarakat kampung. Maka hidupnya dihabiskan hanya untuk berbakti dalam bentuk mendidik para siswa. Tak lagi ia memikirkan bagaimana mencari makan untuk keluarganya.

Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, mereka mempunyai seorang pemimpin kampung. Betapa sistem pemilihan dari lingkungan desa ini lah yang menjadi tonggak dasar berdirinya pemerintahan sebuah negara. Karena begitu luhur pemahaman masyarakat di kampung ini akan sejatinya hidup, maka mereka menjelma menjadi pribadi-pribadi yang ksatria. Tak ada lagi yang merasa dirinya pantas memimpin dibandingkan orang lain. Setiap orang yang telah dewasa di kampung itu, memilih siapa yang pantas memimpin mereka dalam tulisan yang dibawa langsung pada hari pengumpulan. Semua mata menjadi saksi bahwa wadah yang tersedia benar-benar menelan suara dari tangannya sendiri. Setelah itu dilakukan penghitungan dan yang paling banyak terpilih, harus menerima beban kepercayaan masyarakat kampungnya untuk menjadi pemimpin. Jadi, tidak ada calon-calon yang mengajukan diri. Tidak ada kampanye lagi. Karena setiap hari selama 24 jam, merupakan kampanye bagi setiap orang. Hmm… ini yang telah hilang dari negeriku di kehidupan sekarang.

Dalam memilih pemimpin dari 10 kampung terdekat, berkumpul para pemimpin kampung; ksatria-ksatria yang benar-benar dipercaya masyarakat dari kampungnya. Mereka pun melakukan hal yang sama, memilih pribadi yang patut memimpin para pemimpin. Masyarakat tidak lagi ikut memilih, karena mereka telah sangat percaya bahwa mulut ksatrianya telah membawa suara mereka. Bagi yang terpilih, maka posisinya sebagai pemimpin kampung harus segera digantikan oleh yang lain. Begitulah terus hingga terpilih seorang pemimpin negeri. Negeri para ksatria. Negeri seperti Nagari Tawon Madu. Tak ada masa jabatan, selain datang masa sang ksatria merasa tidak lagi mampu menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Tak ada kerajaan, karena jabatan pemimpin tidak patut diwariskan. Juga tak bisa disebut republik, karena sang pemimpin tak mempunyai batas waktu tertentu. Terwujudlah dengan nyata bahwa suara rakyat benar-benar suara Tuhan yang harus dijaga keluhurannya. Menjunjung tinggi martabat tempat kita berdiri, karena kita telah mendapat banyak dari Ibu Pertiwi. Pandu Bhumi yang sejati.

Inilah lukisanku. Semoga jika ini adalah lukisan yang indah, aku mempunyai kesempatan untuk melihat pemandangan aslinya. Entah kapan dan dimana, aku tidak peduli lagi. Yang jelas, aku tidak akan pernah diam dan hanya berharap. Aku akan terus berusaha untuk menciptakan pemandangan asli dari lukisanku ini. Walaupun harus berganti badan ribuan kali.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: