Pembodohan Berkepanjangan

Setiap hari Senin tengah malam, kita bisa menyaksikan tayangan 2 Dunia di stasiun TV TRANS 7. Acara ini sangat berbau mistis. Sebetulnya tidak menjadi persoalan jika tujuan dari acara ini memperlihatkan kepada pemirsa bahwa di dunia ini kita hidup tidak melulu berinteraksi dengan sesama manusia, hewan, dan tumbuhan. Namun Tuhan menciptakan beragam juga makhluk yang tidak tampak oleh mata telanjang, yaitu jin, siluman, malaikat, dewa, dan ruh yang masih belum menjelma menjadi apapun.

Namun yang menjadi persoalan di sini adalah pihak TV tidak mengerti benar tentang bagaimana kehidupan di alam mereka kaum jin atau siluman dan lainnya. Maka mereka berinisiatif mengundang pihak yang mereka anggap mengerti atau paham dunia itu. Alhasil, beragam kepalsuan dan kebengkongan pun ditayangkan. Saya rasa tidak tepat jika pemandu acara memakai atribut keagamaan, namun bernafsu mencari pusaka dari alam lain dengan cara yang sangat kasar dan jauh dari etika kesopanan. Contohnya, ketika seorang ustadz lengkap dengan atributnya yang ke Araban; memperkenalkan suatu tempat yang dianggap menyimpan historikal budaya. Untuk mengetahui tempat apa itu sebenarnya, maka sang ustadz memasukkan salah satu jin penunggu tempat itu ke dalam tubuh mediator. Hal ini dilakukan tanpa permisi, dan terkesan bahwa golongan jin adalah makhluk hina yang memang pantas jika diperlakukan seperti itu. Ditanyai ini itu, setelah masuk ke dalam tubuh mediator. Ketika mendapat jawaban yang diinginkan (biasanya malah tidak dapat apa-apa karena jin itu malah membuat pernyataan yang membuat bingung pemirsa), maka jin yang ada di tubuh mediator di suruh menunjukkan tempat yang ada mustika atau pusakanya. Luar biasa bodoh, untuk apa hal ini dilakukan dan ditayangkan?

Mari kita sejenak berpikir dengan hati yang jernih. Seandainya, kita ini adalah jin itu. Kita telah lama tinggal di bangunan tertentu sejak lama dan damai. Tiba-tiba ada sekelompok orang yang tanpa permisi masuk ke halaman rumah kita, ramai-ramai,  gaduh dan berbicara ini itu tentang rumah kita. Lalu ketika kita penasaran ingin mendekati mereka dengan maksud mencari tahu apa yang sedang terjadi, kita ditangkap, diseret dan dimasukkan secara paksa ke dalam tubuh salah tamu. Bagaimana perasaan kita saat itu? Lalu kita disuruh menunjukkan dimana tempat pusaka kita, untuk dirampas. Masih untung jika kita lalu dikeluarkan dari tubuh mediator dengan kasar, tanpa terima kasih. Biasanya ditangkap atau disiksa, karena kita yang punya rumah, yang tinggal disitu; dianggap makhluk hina yang pantas dimusnahkan. Wow, itu kah citra manusia yang konon lebih mulia dari makhluk lainnya?

Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi terus menerus di belahan bumi ini, baik ditayangkan di televisi maupun tidak. Kebodohan dan pembodohan ini harus segera dihentikan. Saran saya, acara ini dirubah saja. Pihak TRANS 7 harus bijaksana. Jangan malah akhirnya menayangkan tontonan ini dengan kemasan yang berbau agama, padahal sama saja isinya. Bukankah negeri kita ini bukan negeri yang berbudaya Arab? Kita punya budaya maha luhur yang harus kita hargai. Dan bukankah di negeri kita ini tinggal berbagai macam kultur dan agama? Maka sebaiknya kita tidak arogan menayangkan sesuatu dengan memihak suatu agama jika acara itu bukan acara perayaan agama tertentu. Risih telinga dan mata saya, mungkin sama seperti apa yang dirasakan dari saudara sebangsa kita yang berbeda agama dengan saya, dengan Anda. Janganlah larut dalam diskriminasi yang sengaja ditanamkan kepada bangsa kita, namun kita tidak sadar malah sangat memuja karena iming-iming tertentu.

Saran saya, buatlah acara yang betul-betul memperkenalkan suatu tempat yang mengandung sejarah. Tanpa meninggalkan sopan santun, tanpa atribut agama, tanpa mempertontonkan kebodohan, dan tanpa mencari pusaka. Masyarakat kita harus dipandaikan, dengan mengenal bekas-bekas peninggalan nenek moyang kita dulu yang telah lama hidup dan membesarkan tanah tempat kita berpijak sekarang. Semoga dengan begitu, kita lebih mempunyai jatidiri, mencintai tempat kita berpijak, dapat berpikir bijak dan arif, kembali mempunyai budaya luhur; dengan belajar dari masa lalu bangsa kita.

 

1 Komentar (+add yours?)

  1. armayuda
    Jul 12, 2012 @ 07:12:36

    goood

    Balas

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: