Kajian Tayangan Anak

Tayangan anak merupakan satu dari sekian banyak program tayangan yang disuguhkan di layar kaca. Program tersebut sejatinya ditujukan bagi anak-anak agar mereka mendapat nilai-nilai positif bagi perkembangan dirinya seperti nilai agama, pendidikan, budi pekerti dan moral. Berdasarkan survei komposisi penonton televisi berdasarkan usia, penonton usia 5-15 tahun menempati porsi yang cukup besar yaitu hampir 30% (data AGB Nielsen 2008). Sementara itu, berbagai penelitian maupun kajian ditemukan program tayangan anak yang banyak mengandung unsur kekerasan, seksualitas, mistik dan perilaku negatif yang justru membawa pengaruh buruk bagi perkembangan diri dan mental sang anak. Terlebih lagi, lemahnya pengawasan orang tua dan masalah ketaatan stasiun tv terhadap regulasi yang berlaku berdampak terhadap anak-anak. Mereka tak lagi memiliki filter untuk membedakan mana tayangan yang baik dan yang buruk. 

Kajian terhadap tayangan anak dilakukan dengan mengidentifikasi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan stasiun televisi terhadap Undang-undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dari hasil identifikasi tersebut secara empiris ditemukan program-program tayangan anak yang berkualitas dan tidak yang dapat melengkapi acuan KPI untuk bersikap terhadap stasiun televisi. Hasil kajian ini juga diharapkan dapat menjadi masukan bagi stasiun tv untuk selalu melakukan perbaikan isi tayangan. Sedangkan bagi para orang tua, kajian ini dapat menjadi pedoman untuk mengawasi anak-anak ketika menonton.

Dalam kajian bulan Maret 2009, kami memberikan catatan ‘hati-hati’ (lampu kuning), ‘bahaya’ (lampu merah) dan ‘aman’ (lampu hijau) terhadap tayangan anak yang disiarkan di televisi. Untuk program dengan catatan ‘bahaya’, para orang tua harap melarang anak-anak menonton karena tayangan tersebut didominasi muatan negatif seperti kekerasan, mistik, seks dengan frekuensi yang tinggi dan dijadikan sebagai daya tarik utama. Untuk program dengan catatan ‘hati-hati’, para orang tua diminta mendampingi dan memberikan penjelasan kepada anak-anak atas adegan-adegan yang dinilai kurang baik. Sedangkan program dengan catatan ‘aman’ umumnya berisi bukan hanya hiburan tetapi juga memberikan manfaat seperti pendidikan, motivasi, mengembangkan sikap percaya diri dan penanaman nilai-nilai positif.

Program anak sering dijumpai dalam film animasi/kartun. Memang sulit untuk memisahkan kehidupan anak-anak dari animasi/kartun. Masih ada anggapan bahwa semua film kartun adalah film anak-anak. Pada kenyataannya, tidak semua film kartun layak dikonsumsi oleh mereka. Ada begitu banyak film kartun yang bernuansa kekerasan seperti peperangan, perkelahian, aksi menjahili seseorang dan adegan tembak menembak. Secara tak sadar, pesan yang tertangkap dari film-film tersebut adalah solusi untuk memenangkan eksistensi dengan ’menjadi yang terkuat’. Malahan ada film kartun yang bernuansa percintaan dan mengarah kepada porno.

Dalam 1 bulan, kami melakukan kajian terhadap 8-10 judul program tayangan anak yang berjumlah kurang lebih 25 episode. Metode pengambilan sample dilakukan secara acak sistematis (systematic random sampling), yaitu penentuan pilihan petama secara acak kemudian menetukan pilihan selanjutnya secara sistematis. Adapun prioritas pemilihan tayangan anak tersebut didasarkan atas beberapa hal, yaitu: 1) tayangan anak yang baru tayang di televisi. 2) tayangan anak yang banyak mendapat sorotan atau mendapat label bahaya. 3) tayangan anak yang memiliki tingkat popularitas tinggi (ditayangkan berulang-ulang/ re-run baik pada stasiun yang sama maupun stasiun yang berbeda). Setelah tayangan ditonton dan dianalisis, kami mengelompokkan pelanggaran-pelanggaran yang ada dalam 4 kategori pelanggaran yaitu: 1) mengandung unsur kekerasan. 2) mengadung unsur mistik 3) mengandung unsur pornografi. 4) mengadung unsur perilaku negatif.

Pada bulan Maret 2009,  program-program yang dikaji meliputi:

No Tayangan Anak Stasiun tv Tanggal Waktu
1 Ultraman Tiga Global tv 2 Maret 2009 14.00-14.30
2 Ultraman Tiga Global tv 3 maret 2009 14.00-14.30
3 Ultraman Tiga Global tv 4 Maret 2009 14.00-14.30
4 Ultraman Tiga Global tv 5 Maret 2009 14.00-14.30
5. Tarzan Cilik RCTI 10 Maret 2009 17.30-18.00
6 Tarzan Cilik RCTI 11 Maret 2009 17.30-18.00
7 Tarzan Cilik RCTI 12 Maret 2009 17.30-18.00
8 Tarzan Cilik RCTI 13 Maret 2009 17.30-18.00
9 George of The Jungle RCTI 1 Maret 2009 07.30-08.00
10 George of The Jungle RCTI 8 Maret 2009 07.30-08.00
11 George of The Jungle RCTI 15 Maret 2009 07.30-08.00
12 Gekifu Indosiar 8 Maret 2009 08.00-08.30
13 Gekifu Indosiar 15 Maret 2009 08.00-08.30
14 Casper RCTI 8 Maret 2009 07.00-07.30
15 Casper RCTI 15 Maret 2009 07.00-07.30
16 Kaekitsu Zorori ANTV 15 Maret 2009 09.00-09.30
17 Tranformer Galaxy Forces ANTV 16 Maret 2009 13.30-14.00
18 Tranformer Galaxy Forces ANTV 17 Maret 2009 13.30-14.00
19 Tranformer Galaxy Forces ANTV 18 Maret 2009 13.30-14.00
20 Ronaldowati Babak 2 TPI 23 Maret 2009 19.00-21.00
21 Ronaldowati Babak 2 TPI 24 Maret 2009 19.00-21.00
22 Ronaldowati Babak 2 TPI 25 Maret 2009 19.00-21.00
23 Back at Banyard Global tv 21 Maret 2009 08.00-08.30
24 Back at Banyard Global tv 28 Maret 2009 08.00-08.30
Dari hasil kajian ditemukan bahwa unsur kekerasan merupakan unsur pelanggaran yang dominan dalam program tayangan anak bulan Maret 2009. Dengan berpedoman pada P3SPS, unsur kekerasan pada program anak tersebut ditemukan dalam bentuk penayangan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak, baik verbal maupun non verbal (pasal 63 c) dan penayangan adegan yang memperlihatkan perilaku dan situasi membahayakan yang mudah atau mungkin ditiru anak-anak (pasak 63 d). Sedangkan unsur mistik yang ditemukan berupa muatan yang secara berlebihan mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktek spiritual magis, misitk dan kontak dengan roh (pasal 63 f). Sedangkan unsur perilaku negatif banyak ditemukan dalam bentuk mengejek atau menghina seseorang dengan menggunakan kata-kata yang merendahkan (pasal 13 ayat 1) dan memaki orang lain dengan kata-kata kasar (pasal 63 e).

Berikut deskripsi kualitatif pelanggaran P3SPS pada program-program tayangan anak:

1. Ultraman Tiga

Film ini berkisah tentang sosok pahlawan super raksasa yang berasal dari planet luar bumi bernama UltramanTiga. Ia hadir ke bumi dalam rangka memerangi monster raksasa. Ultraman Tiga merupakan perwujudan dari sosok manusia bernama Diego yang bergabung sebagai pasukan perdamaian bumi Guts.

Beberapa pelanggaran P3SPS yang ditemukan dalam tayangan Ultraman Tiga adalah unsur kekerasan dalam bentuk adegan perkelahian antara Ultraman Tiga dengan monster raksasa serta penghancuran gedung bertingkat akibat ulah monster raksasa. Meski demikian adegan kekerasan yang muncul dalam film kini masih dalam batas kewajaran baik dalam kualitas maupun kuantitas. Adegan kekerasan dalam film ini hanya sekedar pelengkap dan tidak mengarah pada sadisme. Untuk itu tayangan ini diberi catatan ”hati-hati”

2. Tarzan Cilik

Sinetron ini berkisah tentang tarzan kecil yang diperankan oleh Ibrahim Alkatiri yang biasa dipanggil Baim. Tarzan yang semula tinggal di hutan terbawa oleh seorang anak bernama Saskie ke kota dan akhirnya tinggal di rumah Saskie. Jalan cerita ini banyak mengulas keluguan tarzan dan kemampuannya berbicara dengan hewan. Secara umum sinetron ini memang pantas dimasukkan dalam program tayangan anak karena tokoh utamanya diperankan oleh seorang anak. Namun berdasarkan analisis terhadap 3 episode sinetron ini, ditemukan banyak pelanggaran P3SPS. Pelanggaran dominan yang ditemukan adalah unsur kekerasan dalam bentuk perilaku dan situasi bahaya yang mudah ditiru anak, misalnya adegan saat Tarzan menggunakan ketapel untuk melemparkan tutup botol air mineral dan buah jeruk ke mulut Olga (episode 44, 10 Maret 2009). Begitu pula saat Tarzan menaruh bayi di atas daun pisang dan menyeretnya (episode 44). Kemudian saat Tarzan menggantung tempat tidur bayi beserta bayinya di atas dahan pohon (Episode 45, 11 Maret 2009). Meskipun hal itu seolah ingin menunjukkan keluguan Tarzan namun sangat berbahaya jika ditiru anak-anak. Terdapat juga perilaku yang cukup mengkhawatirkan yaitu adegan kekerasan fisik meski tidak dalam bentuk serius, misalnya saat Olga secara tidak sengaja memukul gagang sapu mengenai selangkangan Kevin (episode 46, 12 Maret 2009). Ditambah lagi terdapat adegan Kevin mengangkat kakinya untuk dicium Olga yang sedang mengigau (Episode 47, 13 Maret 2009). Atas dasar pelanggaran tersebut, tayangan ini diberi catatan ’hati-hati’.

3. George of The Jungle

Film kartun ini mengisahkan pemuda bodoh namun pemberani bernama George yang tinggal di hutan. Selain George juga terdapat Ursula, seorang perempuan yang diceritakan sebagai kekasih George. Juga terdapat hewan-hewan sebagai sahabat George yang dapat berbahasa manusia. Dari 3 episode yang dianalisis, ditemukan pelanggaran terhadap P3SPS yang dominan, yaitu unsur kekerasan yang melebihi batas kewajaran dan cenderung mengerikan, misalnya George terkena petir hingga hangus (episode 1 Maret 2009), saat Gorge terjatuh hingga kepalanya terbentur batu keras (Episode 15 Maret 2009). Adegan-adegan tersebut memperlihatkan kekerasan sebagai hal yang biasa dan tidak berdampak apapun. Bayangkan jika semua adegan tersebut dipraktekkan oleh anak-anak, tentu saja amat sangat berbahaya. Atas dasar itulah, film kartun ini diberi catatan ’bahaya’

4. Gekifu

Film kartun Gekifu bercerita tentang sebuah permainan (games) di antara beberapa anak yang memiliki monster siluman. Tokoh utama film ini seorang anak bernama Sanshiro yang memiliki teman hantu ’Fe’. Fe lah yang mengajak Sanshiro mengikuti permainan Gekifu untuk membebaskan monster siluman. Melalui permainan akan ditentukan siapa yang berhak mendapat gelar siluman terkuat. Setiap pemain akan dibekali kartu berisi monster yang bisa digunakan untuk menamatkan permainan. Dari 2 episode yang dianalisis tidak ditemukan pelanggaran yang cukup berarti. Sedikit sekali kekerasan yang muncul. Hanya saja jalan cerita film ini yang berkisah tentang hantu dan siluman dikhawatirkan dapat menggiring pemahaman anak-anak untuk percaya pada hal-hal msitik. Atas dasar itu, film Gekifu perlu diberi catatan ’hati-hati’.

5. Casper’s Scare School

Film animasi Casper’s Scare School berkisah tentang kehidupan hantu dan siluman siswa sekolah hantu. Sekolah hantu mendidik semua hantu dan siluman untuk menjadi hantu dan siluman yang menakutkan bagi manusia. Casper yang dikenal sebagai hantu yang baik tidak ingin menakuti manusia. Dengan bantuan kedua temannya mumi dan zombie, Casper berusaha mencegah setiap rencana jahat hantu dan siluman lain. Dari 2 episode yang dianalisis, pelanggaran yang dominan adalah muatan kekerasan yang cenderung sadis, seperti kepala Samantha si zombie yang dicopot setelah dipotong temannya (Episode 8 Maret 2009). Belum lagi saat Samantha mencopot matanya untuk melihat buku-buku di perpustakaan (Episode 15 Maret 2009). Hal-hal tersebut sungguh mengerikan jika ditiru anak-anak. Atas dasar hal tersebut, film anaimasi ini diberi catatan ’bahaya’

6. Kaiketsu Zorori

Film ini mengisahkan tentang petualangan seekor rubah yang penuh tipu daya bernama Zorori yang berkeinginan menjadi seorang raja kejahatan, memiliki istana dan permaisuri yang cantik. Zorori mempunyai kecerdasan dan ketangkasan untuk selalu menemukan jalan keluar dari situasi yang tidak menyenangkan. Dia terus berusaha untuk membuat mediang ibunya bangga. Dari 1 episode yang dianalisis, belum ditemukan pelanggaran. Untuk itu film ini diberi catatan ’aman’

7. Transformer Galaxy forces

Serial ini mengisahkan tentang petualangan 2 robot besar yaitu Autobots dengan Decepticons dalam mempertahankan galaxy tempat tinggal robot. Dari 3 episode yang dianalisis, tidak ditemukan pelanggaran P3SPS yang cukup signifikan. Film ini lebih menekankan pada jalan cerita yang positif seperti usaha untuk menjadi berani, bagaimana menolong teman dan menjadi pemimpin yang baik. Atas dasar itu, serial ini diberi catatan ’aman’.

8. Ronaldowati babak 2

Sinetron ini berkisah tentang sekelompok anak yang gemar bermain sepak bola. Beberapa tokoh yang dominan dalam sinetron ini, antara lain Ronaldowati yang dikenal dengan tendangan super kuat, Mat Gondrong yang terkenal dengan sundulan super, serta ceking yang dikenal dengan kecepatan larinya. Pelanggaran yang dijumpai dalam tayangan ini adalah mengandung unsur kekerasan dan perilaku negatif, seperti perkelahian Mat Gondrong dan Ceking hingga terguling-guling. Juga terdapat adegan Ceking memindahkan kursi yang diduduki Mat Gondrong yang menyebabkan ia jatuh. Adegan seperti itu sangat berbahaya jika ditiru anak-anak karena dapat menyebabkan kecelakaan fisik. Belum lagi pernyataan-pernyataan yang bersifat ejekan dan makian kerap muncul dalam setiap episode, seperti gembrot, pelit, kutu kupret, gentong air. Atas dasar itu, tayangan ini diberi catatan ’bahaya’. Jika dilihat dari klasifikasi acara BO/Remaja yang diberikan TPI dan waktu penayangan pk 19.00-21.00 merupakan hal yang sudah tepat. Namun demikian sinetron ini ditayangkan juga pada pagi hari pukul 07.00-09.00 yang merupakan jam tayang dimana banyak anak-anak yang menonton tv.

9. Back at Barnyard

Film ini berkisah tentang kehidupan binatang ternak yang dapat berbicara dan berinteraksi dengan manusia. Dari 2 episode yang dianalisis, didapatkan beberapa pelanggaran P3SPS dalam bentuk unsur kekerasan dan perilaku negatif. Kekerasan dapat dijumpai ketika polisi menyetrum Otis dengan sengatan listrik, adegan anak memaksa temannya mencium jejak rusa dengan menginjak kepala temannya (Episode 21 Maret 2009). Aksi-aksi tersebut berbahaya jika ditiru anak-anak. Untuk itu, film ini diberi catatan ’bahaya’

Dari kajian tayangan anak bulan Maret 2009 dapat disimpulkan pelanggaran terberat ada pada unsur kekerasan. Untuk itu semua tayangan anak dengan catatan ’bahaya’ (lampu merah) harus mencantumkan klasifikasi acara Remaja/Bimbingan orang tua (R/BO), seperti Casper’s Scare School, George of the Jungle, Back at Banyard dan Ronaldowati Babak 2. Selain harus mencantumlan klasifikasi acara, program-program tersebut sebaiknya tidak ditayangkan dengan teknik mendahului (lead in) program anak lainnya maupun sesudahnya. Tujuannya untuk meminimalisasi kemungkinan anak-anak setelah menonton program dengan klasifikasi anak berlanjut menonton program-program untuk remaja dan dewasa.

Yazirwan Uyun

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: