Reinkarnasi Menurut Pandangan Barat

Adalah seorang profesor bernama Ian Stevenson, seorang ahli di bidang psikiatri dan direktur dari Divisi Riset Kepribadian pada Health Sciences Centre di University of Virginia. Ia menerbitkan sebuah buku berjudul “Where Reincarnation and Biology Intersect” sebagai rangkaian dari banyak buku sebelumnya, yang merupakan wujud ketertarikannya pada masalah kelahiran kembali atau reinkarnasi.

Banyak sekali kasus tentang reinkarnasi yang ia kumpulkan. Ia juga menemukan banyak anak yang masih ingat akan kehidupannya di masa lampau. Kasus-kasus istimewa ini lebih banyak terjadi di negeri-negeri dimana kepercayaan akan reinkarnasi atau kelahiran kembali masih tertanam kuat seperti di Asia. Hal ini disebabkan oleh karena di benua tersebut, jika seorang anak mengatakan perihal kehidupan yang dilaluinya sebelum itu maka orangtuanya bisa menerima perkataan anak tersebut. Tidak seperti di benua yang tidak mempercayai adanya kelahiran kembali/reinkarnasi dimana jika ada seorang anak mengatakan hal yang tidak masuk akal maka akan menimbulkan salah paham dengan orangtuanya. Walaupun demikian, sebenarnya di Barat atau Eropa, banyak juga kasus tentang reinkarnasi ini.

Maka bisa dipelajari bahwa wujud fisik kelahiran suatu makhluk dapat ditentukan oleh kondisi pikirannya sendiri maupun interaksi dengan pihak lain. Mari kita simak apa yang ditemukan oleh Ian Stevenson, sang profesor.

 

Perubahan kondisi fisik akibat interaksi dengan pihak lain

Ian Stevenson telah mengumpulkan 300 laporan medis mengenai hal ini, justru di benua Eropa dan Amerika. Seperti dari negara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Belanda, serta Belgia.

Sebagai contoh untuk hal ini adalah yang dialami seorang ibu yang sedang mengandung. Ada saudaranya yang menderita kanker pada salah satu organ tubuhnya dan harus diamputasi. Si ibu ingin sekali melihat organ tubuh saudaranya yang telah diamputasi tersebut. Dan anehnya setelah bayi yang dikandungnya itu lahir, jabang bayi itu juga tidak mempunyai organ seperti organ saudaranya yang telah diamputasi dulu. Menurut professor Ian, kasus ini mempunyai peluang sangat kecil, yaitu 1 : 30.000.000.

Ian juga menyebutkan bahwa kepekaan yang bisa mempengaruhi kondisi fisik jabang bayi adalah semasa usia kandungan berusia 3 bulan daripada bulan-bulan selanjutnya. Keterkejutan atau ketakutan dari sang ibu selama 3 bulan pertama usia kandungan bisa mempengaruhi kondisi fisik jabang bayi. Pada usia kehamilan itu juga, bayi sangat sensitif pada obat-obatan dan virus.

Adalah seorang bayi laki-laki bernama Sampath Priyasantha dari Srilanka, yang lahir tanpa lengan dan kakinya cacat. Sampath meninggal setelah berusia 20 bulan. Desa Sampath terletak di daerah terpencil, sehingga Profesor Ian mengalami kesulitan mencapai daerah itu. Mulanya sang profesor mempunyai dugaan, bahwa kemungkinan Sampath adalah reinkarnasi dari seseorang yang dulunya juga cacat. Maka ia bertanya kepada ayah Sampath, apakah ayahnya itu kenal dengan seseorang yang sebelum meninggal mengalami kecelakaan sehingga mengalami cacat. Ayah Sampath membenarkan, ia bercerita bahwa ketika anaknya masih di kandungan, ia membunuh seorang preman desa itu. Dengan pedang, ia memotong lengan dan kaki preman itu. Ibu si preman menjadi dendam dan mengutuk keluarganya agar ia mempunyai anak yang cacat.

Kasus Maung Myint Aung, seorang warga Myanmar yang lahir di Burma Hulu pada tahun 1972. Ketika ia mulai lancar berbicara, ia mengatakan dulunya ia adalah seorang serdadu Jepang yang terbunuh di Rangoon, yang melarikan diri dari serbuan Inggris. Agar ia tidak tertangkap, ia dan empat temannya melakukan bunuh diri dengan memotong batang lehernya sendiri. Tempat ia bunuh diri adalah Kebun Binatang di Kota Rangoon. Dan memang Maung Myint mempunyai tanda lahir di lehernya selebar 1 cm yang membentang horizontal sepanjang bagian depan lehernya. Tanda itu mirip dengan tanda luka pada orang yang pernah berusaha bunuh diri dengan memotong leher namun selamat. Sang profesor membandingkan tanda lahir Maung Myint dengan foto dari korban bunuh diri dengan menyayat leher dan meninggal. Hasilnya, sangat mirip. Maung juga mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang mirip dengan orang Jepang, seperti cara duduknya. Tidak suka jika timnas sepakbola Jepang kalah. Maung sangat senang bermain sebagai seorang tentara dan sikapnya kasar seperti seorang prajurit yang sebenarnya. Maung mempunyai keinginan kuat untuk kembali ke Jepang. Mengapa semua ini bisa terjadi pada keluarga Maung?

Maung bercerita bahwa setelah ia meninggal, ia tetap tinggal di lingkungan kebun binatang itu, hingga orang yang kelak menjadi ayahnya akan datang ke kebun binatang tersebut. Dan memang benar, ayahnya mengaku bahwa ketika istrinya dekat dengan kehamilan, ia datang ke kebun binatang Rangoon itu.

Chanai Choomalaiwong, lahir di Thailand Tengah pada tahun 1967. Ia dilahirkan dengan memiliki dua tanda kelahiran. Yang satu ada di bagian belakang kepala, yang satunya di bagian depan kepala, tepat di atas mata kirinya. Ketika Chanai lahir, orangtuanya tidak mengetahui apa-apa tentang tanda lahir tersebut. Hingga ketika Chanai berusia 3 tahun, ia menjadi gemar bermain sebagai seorang guru. Chanai pun bercerita bahwa dulu ia bernama Bua Kai, seorang guru yang mempunyai istri dan anak. Ia berkisah bahwa dirinya dibunuh ketika sedang perjalanan ke sekolah. Ditembak kepalanya, tepat pada tempat yang sekarang menjadi tanda kelahirannya. Ia tinggal di tempat bernama Khao Phra. Chanai memohon kepada orangtuanya agar di ajak ke Khao Phra. Akhirnya nenek Chanai menyetujui untuk membawa Chanai ke sana. Yang aneh, setibanya di sana Chanai masih mengenali tempat dimana ia tinggal dulu beserta detil kehidupan Bua Khai dan keluarganya. Ternyata menurut penelitian, Bua Khai terbunuh pada pagi hari tanggal 23 Januari 1962 (lima tahun sebelum Chanai dilahirkan) dengan tembakan melalui bagian belakang kepala yang tembus di bagian depan tepat di atas mata kiri. Persis sama seperti yang dimiliki Chanai.

Aristide Kolotey, kelahiran Ghana mempunyai tanda lahir memanjang dari bagian leher, turun ke dada, hingga mencapai bawah perut. Aristide dikatakan sebagai reinkarnasi dari pamannya yang mati tenggelam dan badannya terbelah di bagian leher, ketika si paman sedang menyelam di daerah yang berbatu karang. Karena lengah, maka si paman tersayat karang dan mengalami luka parah yang mengakibatkan kematian. Aristide mempunyai phobia terhadap air yang sangat berlebihan.

Metin Khaibasi, lahir di daerah dekat Iskenderun Turki, pada tanggal 11 Juni 1963. Sebelum kelahirannya, orangtuanya bermimpi bahwa Metin adalah kelahiran kembali dari saudara mereka Hasim Khaibasi yang terbunuh sekitar 5 bulan sebelumnya pada saat terjadi kerusuhan di desa itu. Pada saat kelahiran anaknya, ditemukan tanda lahir pada bagian depan kanan dari leher si bayi. Orangtua Metin tidak memahami tanda lahir itu, hingga professor Ian yang telah mempelajari laporan kematian Hakim mendapati fakta bahwa Hasim tewas ditembak tepat di tempat yang sama dengan tanda lahir Metin. Metin juga menunjukkan kebencian yang luar biasa kepada orang yang pernah menembak Hasim hingga pernah ia mengambil senapan ayahnya untuk mencoba menembak orang itu. Untungnya bisa dicegah.

Tali Sowaid, lahir Agustus 1965 di Btebyat, sebuah pegunungan di sebelah timur Beirut – Libanon. Ia mempunyai tanda lahir berupa lingkaran pada tiap-tiap pipinya. Begitu ia mulai lancar berbicara, ia berkisah tentang kehidupan seorang pria yang tinggal di desa Btechney (sekitar 4km dari Btebyat). Orang itu ditembak ketika minum kopi. Apa yang diceritakan oleh Tali, ternyata sesuai dengan kisah seorang pria bernama Said Abul Hisn, yang tinggal di Btechney. Ia ditembak oleh seseorang yang mengalami gangguan jiwa, hingga pelurunya mengenai pipinya dan tembus melalui sisi lainnya. Peluru itu menyebabkan lidah Said luka parah, dan langsung dibawa ke rumah sakit. Namun suatu hari, Said terjatuh dari tempat tidurnya di rumah sakit hingga alat bantu nafasnya rusak. Said meninggal setelah itu.

Profesor Ian mempelajari lebih jauh tentang tanda lahir yang dimiliki Tali dan mendapati bahwa tanda lahir tersebut sesuai dengan lubang masuk peluru dan lubang tembusnya peluru pada kedua pipi Tali. Tali juga mempunyai kesulitan mengucapkan bunyi tertentu, seakan lidahnya pernah terkena sesuatu. Tali menolak dipanggil namanya yang sekarang dan meminta dipanggil sebagai Said.

Sunita Khandelwal, lahir di kota Laxmangarh, Rajastan – India pada tanggal 19 September 1969. Ayah Sunita bernama Radhey Shyam Khandelwal, seorang pedagang pasir, biji-bijian dan pupuk. Sesaat setelah Sunita lahir, didapati suatu tanda kelahiran besar pada bagian kanan kepalanya. Tanda itu mengeluarkan darah, hingga keluarganya memberi bedak pada luka itu dan akhirnya sembuh 3 hari kemudian. Tanda itu menjadi sebuah bundaran yang tidak ditumbuhi rambut, padahal ada di kepala. Pada saat Sunita berusia 2 tahun, ia mulai berkisah tentang kehidupan masa lalunya. Ia berasal dari suatu tempat yang bernama Kota, mempunyai orangtua dan dua saudara. Keluarganya mempunyai sebuah tokok kerajinan perak. Ia didorong sepupunya saat ia berusia 8 tahun, hingga terjatuh dari balkon dengan kepala terbentur lebih dulu dan mati. Orangtuanya tidak mengerti apa yang telah dikatakan Sunita. Akhirnya Sunita memaksa kedua orangtuanya untuk mengantarkan ia ke tempat bernama Kota itu. Sampai ditempat, Sunita mengatakan bahwa toko kerajinan perak di Chauth Mata Bazaar itu berada di sebuah pojokan. Pencarian akhirnya mengantar mereka kepada sebuah toko yang pemiliknya bernama Prabhu Dayal Maheswari. Dan memang betul, anak perempuannya yang bernama Sakuntala dulu meninggal karena jatuh dari balkon saat berusia 8 tahun.

Wilfred Meares, lahir di Queen Charlotte City, British Columbia, Canada; pada tanggal 22 November 1961. Ibunya yang bernama Ruby Meares, bercerita bahwa sebelum ia mengandung ia bermimpi bertemu dengan saudaranya yang bernama Victor Smart. Dalam mimpi itu, Ruby berkata kepada Victor agar Victor tetap terus mengunjungi Ruby.

Victor Smart adalah sosok pria yang baik. Hanya saja memiliki kebiasaan minum dan menyandari pintu ketika sedang mengendarai mobilnya. Suatu saat ketika sedang berkendara dengan teman-temannya, ia mengalami kecelakaan hingga kebiasaan buruknya membuat ia terlempar keluar dari mobil. Kepalanya membentur jalan dan meninggal seketika. Wilfred Meares, mempunyai tanda kelahiran selebar 5 mm dan sepanjang 2cm, tempat yang tidak ditumbuhi rambut pada belakang kepalanya. Ketika mulai lancar berbicara, ia membuat beberapa pernyataan tentang Victor Smart. Anehnya walaupun masih kecil, Wilfred mempunyai ketertarikan kuat kepada alkohol. Ini membuat Wilfred sering berjalan ke tempat orang-orang dewasa yang sedang minum-minum, dengan harapan mereka akan mau memberinya alkohol. Namun Wilfred tetap sopan, tidak pernah minum sebelum ditawari atau minuman itu diberikan kepadanya.

Profesor Ian mempunyai seorang relasi sesama profesor bernama Kloom Vajropala yang berasal dari Thailand. Profesor Kloom ini adalah ilmuwan Buddhis yang berusaha menyelaraskan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Mereka berdua berhasil menemukan kasus seorang bernama Anurak yang lahir di Bangkok – Thailand pada 14 Desember 1969. Anurak memiliki tanda kelahiran mencolok pada lengan kanannya. Oleh keluarganya, Anurak dipercaya sebagai reinkarnasi dari kakaknya, bernama Chatchewan yang meninggal tenggelam di sungai. Mengapa keluarganya begitu yakin?

Saat Chatchewan akan dikremasi, keluarganya membuat tanda dari bara pada lengan kanannya. Dengan harapan jika Chatchewan lahir kembali maka mudah dikenali dengan tanda kelahiran di tempat yang sama akibat goresan bara tersebut. Anurak yang mempunyai tanda itu, benar-benar berkisah tentang almarhum kakaknya itu ketika ia sudah mulai lancar bicara. Bahkan Anurak bisa menemukan pakaian seragam kepanduan Chatchewan yang disimpan dalam lemari. Anurak juga phobia terhadap air.

M. Karaytu, lahir pada tahun 1931 di desa Kavakli, sebuah tempat dekat Adana, Turki. Ia membawa tanda lahir berbentuk mirip segitiga pada bagian bawah punggungnya. Ketika berusia 3 tahun, ia berkisah tentang seseorang bernama Haydar Karadel, yang mempunyai tanah untuk pertanian dan bekerjasama dengan temannya untuk mengelola tanah itu. Ketika sedang makan minum dengan rekan kerjanya itu, mereka terlibat pertengkaran. Haydar memukul temannya serta pergi meninggalkan tempat itu. Temannya mengambil pisau dan mengejar Haydar. Ditusukkan pisau itu ke bawah punggung Haydar. Pisau yang digunakan untuk menikam adalah jenis yang ditajamkan salah satu sisinya saja yang meninggalkan bekas luka sama seperti tanda lahir Karaytu.

Maung Zaw Win Aung, kelahiran Meiktila, Burma Hulu pada tanggal 9 Mei 1950. Orangtuanya bernama U Tin Aung dan Daw Kyin Htwe. Ia adalah anak pertama dari keduabelas anak pasangan itu. Maung Zaw merupakan seorang albino, yaitu oran gyang terlahir dengan warna kulit sangat putih dibanding suku bangsanya. Rambutnya juga pirang. Dan anehnya, mata Win Aung tidak menunjukkan ciri-ciri Mongoloid seperti selayaknya orang Myanmar, melainkan seperti mata orang Kaukasoid atau orang barat pada umumnya. Pada saat lancar bicara, Win Aung mengatakan bahwa ia dulunya adalah seorang penerbang Amerika yang pesawatnya jatuh tertembak di deka Meiktila. Ia dulu bernama John Steven. Maung juga ingat bahwa dulu pesawatnya berbasis di Burma. Ia terkadang minum alkohol bila mereka sedang dalam misi pengeboman. Dan ternyata memang benar, dalam catatan sejarah disebutkan bahwa beberapa pesawat tempur Amerika yang berbasis di dekat Calcutta ada yang tertembak jatuh oleh Jepang di dekat Meiktila pada saat Perang Dunia II. Win Aung menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang janggal di keluarganya, yang dikenal dengan kebiasaan orang Barat. Ia mempunyai kenangan kuat tentang Amerika dan mengatakan ingin kembali ke sana jika bisa. Ia juga selalu membanggakan Amerika sebagai tempat yang lebih baik untuk hidup dibandingkan Myanmar. Ia juga sangat benci orang Jepang. Ia menyukai pakaian Barat daripada pakaian tradisional, seperti sepatu, celana, dan ikat pinggang. Maung begitu tertarik terhadap pesawat terbang, serta selama bertahun-tahun selalu mengatakan bahwa ia akan menjadi pilot pesawat terbang. Ia menolak makan dengan tangan yang umum dilakukan orang sekitarnya, dan memaksa makan dengan sendok hingga ia berusia 12 tahun. Ia tidak suka makanan setempat, lebih suka susu dan biskuit. Satu hal penting, ketika masih kecil Maung menunjukkan suasana hati yang mudah berubah. Suatu saat ia berbicara dengan berapi-api mengenai misi pengeboman yang dilakukannya, tapi dengan segera ia akan meloncat ke hal yang berlawanan. Ia menyesal telah membunuh begitu banyak orang. Ia memperlihatkan keinginan untuk menjadi seorang biksu Buddha untuk menebus kejahatan yang dilakukannya selama perang. Ketika tumbuh besar, akhirnya Maung berusaha untuk menjadi orang Myanmar, namun ia masih tetap mempunyai ingatan akan kehidupan yang lebih baik di Amerika. Akhirnya Maung masuk sekolah kedokteran, menikah dan mempunyai anak yang normal selayaknya orang Myanmar. Satu lagi hal aneh, ketika Maung berusia 10 tahun ibunya bermimpi didatangi seorang wanita Barat yang meminta ijin untuk dilahirkan di keluarga mereka, agar dekat dengan saudara laki-lakinya. Dan benar, setelah itu ibunya melahirkan seorang bayi perempuan yang juga menunjukkan ciri-ciri fisik seperti Maung. Diberinya nama bayi perempuan itu Dolly Aung.

Ma Khin Ma Gyi dan Ma Khin Ma Nge adalah anak kembar yang dilahirkan di Myanmar pada tanggal 5 Februari 1961. Orangtua mereka bernama U Ba Thaw dan Daw Mya Tin. Sebelum kelahiran mereka, ibunya bermimpi bahwa orangtua ibunya akan lahir kembali sebagai anak mereka. Ketika telah lahir dan telah lancar bicara, anak kembar ini berkisah tentang kehidupan dari kakek dan nenek mereka. Ma Khin Ma Gyi dapat mengingat kehidupan kakek mereka dan Ma Khin Ma Nge dapat mengingat kehidupan nenek mereka.

Dulcina Karasek, lahir sekitar tahun 1919 di Dom Feliciano. Negara bagian Rio Grande do Sul – Brasil. Orangtuanya bernama Patricio dan Georgeta de Albuquerque. Dulcina menyatakan dirinya dulu bernama Zeca, dan ia mengisahkan detil dari kehidupan saudara sepupu orangtuanya yang bernama Jose Martins Ribeiro yang akrab dipanggil Zeca. Zeca sendiri lahir tahun 1872. Sebagai seorang pemuda, Zeca menyibukkan dirinya dengan aktifitas politik serta masalah revolusioner berikut pengalamannya yang terekam dalam ingatan Dulcina. Zeca kemudian membangun suatu bisnis di kota Dom Feliciano, menikah, namun kemudian sakit dan meninggal pada tahun 1895.  Kemungkinan kematiannya akibat penyakit kelamin. Dulcina ngotot menyebut dirinya Zeca, serta menolak dipanggil Dulcina dan bersikeras bahwa ia adalah seorang pria yang telah menikah, bukan anak perempuan. Sering ia bertanya kepada ibunya tentang fisiknya sekarang yang menjadi seorang perempuan. Juga warna matanya yang dulu biru dan sekarang coklat. Dulcina lebih suka memakai pakaian laki-laki daripada perempuan. Ketika bertambah dewasa, dirinya menjadi lebih maskulin. Setelah mencapai pubertas, badan Dulcina dihiasi bulu layaknya seorang laki-laki, tubuhnya pun berotot.

Maung Myo Min Thein, lahir di desa Wundwin, Burma Hulu pada tanggal 14 September 1967. Ayahnya bernama U Aung Maw dan ibunya bernama Daw Thoung Nyunt. Saat dilahirkan Min Thein mempunyai tanda lahir yang sangat mencolok, yaitu suatu daerah di bagian kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut. Orangtuanya tidak begitu memahami apa arti tanda lahir tersebut. Ketika Min Thein berusia 8 bulan, ia dibawa oleh orangtuanya ke biara Thein Gottara. Di biara itu Min Thein mendadak ketakutan dan menangis. Orangtuanya tidak berhasil menenangkannya hingga mereka memutuskan untuk pulang.

Ketika Min Thein telah lancar berbicara, ia mencoba menjelaskan ingatannya mengenai masa lalu walaupun perbendaharaan katanya masih kurang. Ia menunjuk ke arah biara Thein Gottara dan mengatakan bahwa ia telah dipukul pada bagian kepalanya. Saat ia berusia lima tahun, Min telah lancar berbicara dan ia berkisah bahwa dulu ia bernama Yang Arya U Warthawa dari biara Thein Gottara. Sama, ia mengatakan bahwa ia telah dipukul di bagian belakang kepalanya oleh sebuah baut pintu yang sangat berat. Mendengar hal ini, orangtuanya memeriksa belakang kepala Min dan mendapati sebuah cekungan yang tidak pernah mereka perhatikan sebelumnya. Min membuat pernyataan bahwa yang membunuhnya adlah seorang asing yang menderita gangguan mental. Tidak lama sebelum kematiannya, ia meminta salah seorang bikhu di biara itu untuk membatalkan perjalanannya ke Mandalay, yang sebelumnya telah direncanakannya. Namun bikhu itu menolak dan tetap melakukan perjalanan ke Mandalay. Pernyataan Min tersebut sangat persis dengan apa yang telah terjadi pada Bikhu U Warthawa, seorang kepala biara yang sangat dihormati di biara Thein Gottara. Suatu hari datang seorang bikhu asing yang sebenarnya sakit mental, namun tidak ada yang mengetahui hal penyakitnya itu. Yang Arya U Warthawa menyambut bikhu asing itu dengan penuh keramahan.

Min sendiri juga menampakkan kebiasaan yang tidak umum di keluarganya, yang sebenarnya itu adalah kebiasaan bikhu U Warthawa. Min menunjukkan ketakutan terhadap bikhu-bikhu yang tidak dikenalnya. Min suka duduk dengan menyilangkan kedua kakinya, dan memilih tempat duduk yang lebih tinggi dan lebih baik. Tidak mau duduk di atas karung beras kosong yang dibentangkan di lantai, untuk duduk seluruh anggota keluarga Min. Hal ini menunjukkan peran seorang bikhu Buddha, yang mana umat Buddha Theravada jika mengunjungi seorang bikhu akan duduk di lantai atau tempat yang lebih rendah daripada sang bikhu. Yang Arya U Warthawa wafat pada tanggal 1 April 1949, selisih 18 tahun dengan kelahiran Min Thein. Merupakan waktu terpanjang dari seluruh kasus yang pernah diteliti oleh profesor Ian Stevenson.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: