Petuah Galunggung

Dalam sejarah rakyat Sunda dikenal istilah Resi Guru, yang sepanjang jaman hanya dimiliki tiga orang. Ketiga orang itu adalah:

  1. Resi Guru Manikmaya (Raja di Kendan, ± 536 – 568 M)
  2. Resi Guru Demunawan (Raja Saunggalah I, ± awal abad 8 M)
  3. Resi Guru Niskala Wastu Kancana (Raja Kawali, ± 1371 – 1475 M)

Resi Guru adalah sebuah gelar yang terhormat bagi seorang raja yang telah membuat suatu ajaran, visi hidup, atau undang-undang dasar yang menjadi pedoman bagi seluruh keturunannya dan rakyatnya.

Salah satu keturunan dari Resi Guru Demunawan, yaitu Darmasiksa yang menjadi Raja di Saunggalah II; pun menulis sebuah rangkaian nasihat. Nasihat ini tertulis di daun nipah sebanyak 6 lembar yang terdiri dari 12 halaman dan berbahasa Sunda Kuna. Dikenal sebagai Kropak No. 632, atau Nakah Ciburuy, atau Nasihat Dari Galunggung.

Di dalam tulisannya tersebut, Darmasiksa yang pada akhirnya dikenal sebagai Prabu Guru Darmasiksa; menuliskan visi hidup yang harus dijadikan pegangan bagi rakyatnya. Petuah Galunggung ini terdiri dari tiga pokok bahasan di setiap halamannya, yaitu:

  1. Petuah tentang Pedoman Hidup
  2. Petuah tentang Perilaku Buruk (yang bisa merugikan orang lain) atau tentang Perilaku Baik (yang bisa menolong orang lain)
  3. Kandungan Nilai

Inilah isi dari Petuah Galunggung yang ditulis oleh Prabuguru Darmasiksa, leluhur rakyat Sunda. Semoga kita semua bisa mengambil nilai-nilai kebaikan dan mengamalkannya pada kehidupan nyata. Apapun, siapapun kita.

 

 

PETUAH GALUNGGUNG

 

HALAMAN 1

Pegangan Hidup:

Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya.

Darmasiksa memberikan petuah ini kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.

Kandungan Nilai:

Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri.

Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas (SDM) keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.

HALAMAN 2

Pegangan Hidup:

Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus.

Jangan menikah dengan saudara.

Jangan membunuh yang tidak berdosa.

Jangan merampas hak orang lain.

Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.

Jangan saling mencurigai.

Kandungan Nilai:

Sebagai suatu bangsa (Sunda) harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai kekuasaan dan kemuliaan kita/Sunda direbut/didominasi oleh orang asing.

Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan.

Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat.

Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.

HALAMAN 3

Pegangan Hidup:

Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).

Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun.

Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.

Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.

Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan memarahi orang yang tidak bersalah.

Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.

Kandungan Nilai:

Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dikonotasikan sebagai tanah air (lemah cai, ibu pertiwi). Untuk orang Sunda adalah Tatar Sunda-lah tanah yang disucikannya (kabuyutannya). Untuk orang Sukapura/Tasikmalaya ya wilayahnya itulah tanah yang disucikannya.

Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia.

Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing.

Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh lebih hina dan menjijikan dibandingkan dengan kulit musang (yang berbau busuk) yang tercampak di tempat sampah (tempat hina dan berbau busuk), bila anak bangsa tsb tidak mampu mempertahankan tanah airnya.

Hidup harus mempunyai etika.

HALAMAN 4

Pegangan Hidup:

Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.

Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.

Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.

Kandungan Nilai:

Hidup harus tunduk kepada aturan, termasuk mentaati “pantangan” diri sendiri. Ini menyiratkan bahwa manusia harus sadar hukum, bermoral; tahu batas dan dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Orang yang moralnya rusak sulit diperbaiki, sebab terserang penyakit batin (hawa nafsunya), termasuk orang yang keras kepala.

HALAMAN 5

Pegangan Hidup:

Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya. Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.

Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.

Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.

Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.

Semua yang dinasihatkan bagi kita semua ini adalah petuah dari Rakeyan Darmasiksa.

Kandungan Nilai:

Manusia harus rendah hati jangan angkuh.

Agama sebagai pegangan hidup harus ditegakkan.

Pengetahuan akan nilai-nilai peninggalan para leluhur harus didengar dan dilaksanakan.

HALAMAN 6

Pegangan Hidup:

Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.

Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:

– Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;

– Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.

– Ahli strategi akan unggul perangnya.

– Pertanian akan subur.

– Panjang umur.

SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup.

SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan.

SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berebut kedudukan.

Jangan berebut penghasilan.

Jangan berebut hadiah.

Perilaku Yang Positif:

Harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.

Kandungan Nilai:

Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebangagan puteranya/keturunannya.

Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran.

Bila tokoh yang tiga (Rama, Resi dan Prabu), biasa disebut dengan Tri Tangtu di Bumi (Tiga penentu di Dunia), berfungsi dengan baik, maka kehidupan pun akan sejahtera.

Hidup jangan serakah.

Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar.

HALAMAN 7

Pegangan Hidup:

Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran.

Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia.

Itulah manusia yang mulia.

Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan.

Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya.

Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya.

Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.

Perilaku Yang Positif:

Perbuatan, ucapan dan tekad harus bijaksana.

Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.

Perilaku Yang Negatif:

Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.

Kandungan Nilai:

Manusia yang mulia itu adalah yang taat melaksanakan agama/ajaran dan mempererat silaturahmi dengan sesama orang.

Dalam budaya Sunda, yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja/berkarya.

Etika dan tatakrama dalam bermasyarakat perlu digunakan.

HALAMAN 8

Pegangan Hidup:

Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.

Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.

Tidak benar pula bila kita berkeja hanya karena ingin dipuji orang.

Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.

Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.

Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.

Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

Perilaku Yang Positif:

Yang disebut berkemampuan itu adalah:

Harus cekatan, terampil, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, superwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu introspeksi dan retrospeksi.

Jangan menyalahkan orang lain.

Berkerja harus iklas jangan karena ingin dipuji orang.

Orang yang mulia itu adalah orang yang bekerja/beramal/berkarya.

Kejujuran dan kebenaran ada di dalam diri pribadi, itu adalah hati nurani.

Manusia yang mulia itu adalah yang mempunyai kualitas SDM prima.

HALAMAN 9

Pegangan Hidup:

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

Perilaku Yang Negatif:

Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung/babarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang petuah, sulit hati, rumit mengesalkan, aib dan nista.

Kandungan Nilai:

Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.

Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.

Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

HALAMAN 10

Pegangan Hidup:

Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.

Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.

Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.

Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.

Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.

Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

Kandungan Nilai:

Minta dikasihani orang itu adalah tercela.

Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.

Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.

HALAMAN 11

Pegangan Hidup:

Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.

Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih isteri, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.

Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.

Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.

Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.

Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.

Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.

Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

Kandungan Nilai:

Orang berwatak rendah akan dibenci orang mungkin dibunuh orang, hidupnya tidak akan lama, namanya pun tidak dikenang orang dengan baik.

Hormatilah dan senangkanlah hati orang tua.

Banyak bertanya agar hidup tidak tersesat.

Kesadaran akan waktu dan sejarah.

Kesadaran akan adanya “reward” yang harus diimbangi dengan jasa/kerja.

HALAMAN 12

Pegangan Hidup:

Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.

Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.

Ketidak-pastian dan kesemrawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.

Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.

Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.

Kandungan Nilai:

Pekerjaan yang sia-sia sama saja dengan tidak berkarya.

Tanpa berkarya tak akan tercapai cita-cita.

Ketidak tenteraman di masyarakat karena para cerdik pandai, birokrat dan orang-orang kaya salah dalam berperilaku dan bertindak.

Pandailah mengukur kemampuan diri, agar tidak sia-sia.

HALAMAN 13

Pegangan Hidup:

Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.

Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepa cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.

Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

Perilaku Yang Positif:

Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.

Senang akan keelokan/keindahan.

Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.

Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.

Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

Kandungan Nilai:

Harus mempunyai SDM yang berkualitas prima.

Konsentrasi dan fokus perhatian sangat penting dalam mencapai cita-cita.

 

Itulah intisari naskah PETUAH DARI GALUNGGUNG (KROPAK 632), yang disebut dengan PETUAH PRABUGURU DARMASIKSA.

Kini terpulang kepada kita dalam menelusuri, memilih serta memilah dan mensistemasikan nilai-nilai luhur yang dipetuahkan oleh Rajaguru Darmasiksa kepada kita Urang Sunda (Saunggalah I, II, Galuh, Sunda), bukankah dengan tegas beliau mengpetuahkan bahwa petuahnya ini ditujukan bagi kita semuanya untuk terus berusaha mewujudkan masyarakat yang berbudaya.

Apresiasi di Abad 21

Nilai-nilai yang menjadi Citra Identitas suatu Budaya (lokal) akan berkaitan erat dengan Otentisitas perilaku/visi hidup masyarakat pendukung budaya lokal tersebut. Tetapi otentisitas jatidiri masyarakat itu pun terdiri dari otentisitas jati diri pribadi-pribadi manusianya secara individual. Ini berarti setiap individu yang berada di wilayah Sukapura/Tasikmalaya (khususnya) harus mempunyai kualitas jatidiri yang bercitra identitas otentik sesuai dengan pandangan hidup yang dianutnya (masyarakat pendukung budayanya).

Bila azas ontentisitas ini akan dijadikan dasar acuan maka perlu diusahakan pentransformasian nilai-nilai yang khas tadi kepada seluruh masyarakat pendukungnya. Hal ini diperlukan untuk mensosialisasikan sekaligus menjadi teladan, sehingga masyarakat Sunda tidak hanya menjadi obyek tapi berperan sebagai subyek, adaptif tetapi proaktif, yang dapat NGINDUNG KA WAKTU BARI NGABAPAAN JAMAN.

Nilai-nilai kearifan budaya lokal yang demikian bermakna, apabila kita tidak menyiasati untuk secepatnya diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka makna nilai-nilai luhur tadi hanya akan terbatas menjadi Pengetahuan/Knowledge/Kanyaho saja. Dalam hal ini hanya untuk memenuhi hasrat bernostalgia dan bermimpi saja, arogansi yang feodalistik, yang tidak ada manfaatnya bagi karakter bangsa.

Apabila kita telaah selintas, Petuah Prabu Guru Darmasiksa ini sepertinya hanya diperuntukkan bagi entitas Sukapura saja, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Petuah ini berkaitan dengan wilayah Galuh sebagai asal mula leluhur Prabuguru Darmasiksa, Wilayah Saunggalah I (Kuningan), Wilayah Sukapura, Wilayah Suci (Garut) dan akhirnya seluruh wilayah Kerajaan Sunda, karena beliau dinobatkan menjadi Penguasa Kerajaan Sunda sampai akhir hayatnya. Maka pada akhirnya Petuah Prabu Guru Darmasiksa ini diperuntukkan bagi seluruh entitas Ki Sunda. Bahkan lebih dari itu, pada awalnya Wawasan Nusantara ini juga termasuk wilayah Sunda Kecil dan Sunda Besar. Maka tak ayal lagi petuah ini pun diperuntukkan bagi seluruh Wawasan Nusantara.

Referensi yang digunakan:

Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa – Parwa 1 Sargha 1-4. Agus Aris Munandar dan Edi S. Ekadjati. Yayasan Pembangunan Jawa Barat, 1991.

Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Drs. Saleh Danasasmita dkk. Pemerintah Propinsi Daerah Tk I. Jawa Barat, 1983-1984.

Sewaka Darma. Sanghiyang Siksa Kandang Karesian – Petuah Gakunggung. Ayatrohaedi dkk. Depdikbud, 1987.

Drs. H.R. Hidayat Suryalaga


 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: