Sepetak Tanah

Pada zaman dahulu tersebutlah seorang raja yang dermawan dan kaya raya. Wilayah negeri yang ia perintah pun luas tak terkira. Pada suatu hari sang raja berulang tahun. Pada hari itu ia mengumumkan, “Barangsiapa sanggup berjalan paling jauh sehari penuh, maka tanah seluas titik awal sampai titik akhir perjalanannya boleh menjadi miliknya.”

Maka beberapa orang rakyatnya pun mendaftarkan diri mengikuti sayembara tersebut. Salah seorang di antaranya adalah pria yang terkenal serakah. Belum apa-apa ia sudah berpikir, “Ah, aku harus menjadi yang terdepan. Aku harus menjadi juara sayembara ini. Aku harus berlari paling jauh sehingga hadiah ini menjadi milikku.”

Maka ketika perlombaan dimulai, pria tersebut langsung berlari meninggalkan para pesaingnya. Ia berlari dan terus berlari. Dalam benaknya yang ada hanya semboyan, “Aku harus berlari sekencang-kencangnya. Aku harus menang. Aku harus menempuh perjalanan paling jauh. Aku harus jadi yang terbaik. Aku harus mendapatkan tanah seluas-luasnya.”

Tak pelak lagi, pria tersebut jauh meninggalkan para pesaingnya. Ia terus berlari dan berlari. Para pesaingnya sudah banyak yang menyerah karena tertinggal jauh. Namun ia tidak peduli. Ia tidak berhenti sampai di situ saja.
“Aha, mereka sudah jauh tertinggal di belakang. Aku sudah pasti menang. Tapi jarak yang kutempuh masih terlalu pendek. Aku harus mendapatkan tanah yang seluas-luasnya. Harus,” begitu ujarnya sambil berlari.

Pria itu pun terus berlari meskipun sudah jelas-jelas ia menjadi pemenang sayembara tersebut. Siang itu sama sekali ia tidak mau beristirahat. Meskipun perutnya lapar dan tenggorokannya kering namun ia tidak peduli. Sedikit pun ia tidak sudi beristirahat. “Aku harus mendapatkan tanah seluas-luasnya. Harus.”

Waktu pun terus berlalu. Pria itu mulai terlihat sempoyongan. Tenaganya sudah benar-benar terkuras habis. Napasnya sesak terputus-putus. Akhirnya ia pun roboh tak sadarkan diri.

Ketika tim penilai datang dan menemukannya sudah tergeletak di tengah jalan, mereka pun langsung memeriksa keadaan pria itu. Ketua tim terkejut dan berteriak, “Gawat, ia sudah mati! Pemenang sayembara ini sudah mati kehabisan tenaga.”

Laporan pun segera sampai di telinga sang raja. Setelah diam sejenak, raja berkata, “Itulah manusia. Seluas apa pun tanah yang ia inginkan, pada akhirnya yang ia perlukan hanya sepetak saja. Hanya sepetak tanah saja yang ia butuhkan.”

Antapurwa Pandu Bhumi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: