Mengenali Potensi Diri & Cermat Melihat Peluang

Setelah menempa diri selama ± 12 tahun dengan mengenyam pendidikan di sekolah, masa depan kita ditentukan hanya dalam beberapa hari, yaitu hasil dari Ujian Akhir Nasional. Namun pernahkah kita berpikir akan ke mana kita setelah lulus dari SMA? Apakah kita akan meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, atau langsung bekerja? Jika kita meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, program studi apa yang akan kita ambil? Apa yang tepat dengan potensi yang kita miliki? Atau kita hanya membuang-buang uang orang tua kita dengan berkata dalam hati ”yang penting kuliah”? Pertanyaan yang sama juga dialami pihak yang memutuskan untuk langsung bekerja. Apakah kita akan berwira usaha? Jika ya, usaha apa yang akan kita jalani dan sudahkah cocok dengan potensi yang kita miliki? Atau kita memutuskan untuk bekerja di perusahaan orang lain dengan berkata dalam hati, ”yang penting dapat penghasilan daripada menganggur tak tentu arah”? Lalu jaminan ketrampilan apa yang bisa kita berikan kepada pemilik perusahaan?

Ternyata semua masalah di atas berpangkal pada sejauh mana kita mengenal potensi diri yang kita miliki. Kita hanya menjalani rutinitas sehari-hari tanpa pernah berpikir atau lebih tepatnya merenungi potensi apa yang sebenarnya kita miliki. Ya, sebenarnya sebagian besar manusia tidak mengenal dengan baik keseluruhan dari dirinya sendiri.

 

Mengenali Potensi Diri

Azis Writes: ”Mungkin, ada di antara kita yang masih belum tahu bagaimana sebenarnya potensi kita, dengan kata lain apa sebenarnya kelemahan dan kekuatan diri kita. Jangankan kita, para ilmuwan (seperti psikologi) masih bingung mengenal siapa manusia. Bahkan lebih tragis lagi manusia dianggap menyimpan berbagai misteri, dan menyebutnya sebagai black box?”

Alexis Carel (1976) menuliskan tentang betapa keringnya pengetahuan manusia terhadap dirinya sendiri dalam sebuah buku ”A Man Unknown”. ”Berabad-abad lamanya manusia gagal mengenal manusia,” begitu kata Emha Ainun Najib dalam sebuah puisinya. Padahal menjawab siapa manusia menjadi bagian penting bagi manusia itu sendiri.

Potensi diri manusia ibarat Gunung Es di lautan, yang muncul ke permukaan hanya sedikit sedangkan yang lain tertutup oleh lautan. Manusia memiliki potensi diri yang luar biasa bila kita dapat mengasahnya, melatih atau memanfaatkan dengan tepat dan benar.

Potensi diri manusia terdiri atas kekuatan fisik yang di kontrol oleh otak, dan kekuatan metafisika yang dikontrol oleh hati nurani. Potensi ini merupakan alat yang mampu membantu manusia agar terlepas dari kemelaratan dan kemiskinan, jadi jangan kita sia-siakan anugerah Tuhan tersebut. Kemiskinan dan kemelaratan manusia bukan nasib atau takdir, namun lebih merupakan bentuk ketidaktahuan dan kemalasan manusia dalam mengenali, menggali, serta memanfaatkan potensi dirinya.

Potensi dari kekuatan fisik lebih sering kita gunakan untuk menjalankan rutinitas kita sehari-hari. Dari rutinitas itu kita mendapatkan apa yang dinamakan kebiasaan, dan hal ini dapat membentuk karakter diri kita. Jika kita mengasahnya dengan cara-cara yang benar maka kita akan mendapat banyak ketrampilan. Misalnya, seseorang yang rajin melatih dirinya untuk memainkan piano, maka ia akan dikenal orang sebagai seorang pianis. Dari kebiasaannya berlatih maka ia mempunyai ketrampilan untuk memainkan piano. Inilah potensi diri yang dapat kita peroleh dari kekuatan fisik.

Berikutnya adalah potensi dari kekuatan metafisika. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar bahwa hanya orang tertentu yang diberi potensi ini, yaitu Bakat. Sebenarnya pendapat ini kurang benar, karena semua orang memiliki bakat. Hanya saja kita belum mengenalnya, maka tentu saja tidak juga dapat menggalinya. Munculnya bakat tidaklah sama. Pada beberapa orang, bakat langsung timbul ke permukaan; dan pada sebagian besar orang, bakat itu tidak langsung muncul ke permukaan. Jika kita menggali serta mengasah dengan tepat dan benar, maka kita akan mempunyai naluri yang hebat. Misalnya, serupa dengan contoh di atas. Seseorang yang sebenarnya mempunyai bakat menjadi pianis, namun karena ia tidak rajin berlatih maka ia tidak akan pernah bisa menunjukkan bakatnya dan tentu saja kalah dengan yang tidak berbakat di bidang ini namun ia terampil. Namun jika orang ini rajin berlatih, maka ia tidak hanya menjadi seorang pianis. Ia juga bisa menjadi seorang composer ataupun pencipta lagu. Berbeda dengan orang yang hanya terampil, bakat melahirkan naluri yang menghasilkan nilai lebih. Sedangkan orang yang terampil hanya maksimal sebagai seorang pemain atau player. Inilah potensi diri yang dapat kita peroleh dari kekuatan metafisika.

Dalam usaha kita mengenali potensi yang kita miliki tentu saja banyak terdapat faktor-faktor yang menjadi penghambat. Di antaranya adalah:

1. Faktor penghambat dari lingkungan

Adalah sistem yang dianut oleh lingkungan di sekitar kita, baik itu di sekolah maupun dilingkungan rumah kita. Semisal adanya senioritas di sekolah yang menyebabkan prestasi kita tidak dapat berkembang.

2. Faktor penghambat dari tiap individu

Merupakan faktor yang menyebabkan kita enggan untuk instropeksi diri karena terkadang kita tidak mau menerima kenyataan. Misalnya saja faktor tujuan hidup dan usia.

3. Faktor tujuan hidup yang tidak/belum tergambar dengan jelas

Merupakan faktor motivasi dan faktor keengganan untuk menelaah diri. Terkadang manusia takut untuk menerima kenyataan bahwa ia memiliki kekurangan ataupun kelebihan pada dirinya.

4. Faktor usia

Terkadang orang yang sudah tua dalam usia tidak dapat melihat akan kearifan dan kebijaksanaan yang dapat dicapainya. Mereka cenderung memandang bahwa usia muda lebih hebat karena produktif.

 

 

Kita dapat mengenali potensi apa yang terdapat pada diri kita melalui berbagai cara. Di sini kami akan uraikan 2 pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengenali potensi diri kita, yaitu:

  1. Melakukan analisa diri, yakni dengan cara:
  2. Mengenali diri (baik kelebihan maupun kelemahan), menurut penilaian diri sendiri.
  3. Mengenali diri (baik kelebihan maupun kelemahan), menurut penilaian orang lain.
  4. Membandingkan dan mengevaluasinya.
  5. Melakukan perbaikan setiap saat.
  6. Melakukan uji diri dengan melakukan knowing by doing. Prinsipnya adalah:
  7. Kita tidak tahu persis batas kemampuan kita kecuali kita melakukannya sendiri (lakukan dan bekerja keras).
  8. Setelah melakukannya barulah kita mengerti sejauh mana kemampuan kita.
  9. Setelah mencobanya barulah kita tahu, cocok tidaknya sebuah pekerjaan itu bagi kita.

Cermat Melihat Peluang

Yang terpenting dari hidup ini adalah bagaimana kita memanfaatkan usia dengan maksimal dan tidak ada waktu yang terbuang percuma. Karena sesungguhnya waktu terus berjalan dan tidak menunggu kita. Lalu bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada dengan maksimal?

Mulailah sejak saat ini, dari diri kita sendiri untuk membuka diri dan mengenali potensi yang kita miliki. Mulailah melatih bakat yang kita miliki sehingga kita tidak hanya mempunyai bakat yang terpendam ataupun hanya terampil melakukan sesuatu, namun kita bisa menjadi manusia dengan bakat dan ketrampilan yang terasah dengan baik.

Inilah yang membuat kita bisa dengan cermat melihat peluang yang ada. Bagi siswa yang telah mengenali bakatnya, ia tidak akan pernah salah pililh ke arah mana ia akan mencapai tujuan hidupnya. Langkahnya mantap dan tepat terus ke depan. Tidak berbelok ke sana kemari, karena masih belum yakin akan kemampuannya sendiri sehingga bingung arah mana yang akan dituju. Ia tidak akan bisa cermat dalam melihat peluang-peluang yang ada karena disibukkan dengan dirinya sendiri.

Siswa yang memutuskan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, tentu langsung memilih program yang sesuai dengan bakat yang telah ia ketahui. Ia paham benar bahwa dengan mengikuti pendidikan tersebut, ia dapat mengasah potensi dirinya sehingga menjadi ahli di bidang tersebut.

Siswa yang memutuskan untuk langsung bekerja setelah keluar dari SMA, lepas ia bekerja di suatu perusahaan ataupun berwirausaha; juga akan benar-benar paham ke mana ia – dengan bakat yang dimilikinya – akan mengambil langkah. Ia juga paham benar bahwa bekerja di perusahaan yang sesuai dengan bakat yang ia miliki, akan membuatnya memiliki keahlian yang makin terasah. Begitu juga dengan sang wirausahawan. Ia akan benar-benar menikmati laju usaha yang ia rintis, karena ia tahu benar bahwa usahanya sesuai dengan bakat yang ia miliki. Ia akan selalu menciptakan inovasi-inovasi dari naluri bisnisnya. Setiap waktu yang ia lalui, semakin membuat dirinya terampil dalam mengolah usahanya.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa tanpa mengetahui potensi diri kita, kita akan berjalan tak tentu arah dalam mencapai apa yang kita inginkan. Tujuan hidup kita hanya sekedar harapan atau impian. Waktu akan terbuang dengan percuma. Namun jika kita memahami potensi yang kita miliki, kita akan menjadi manusia yang berkualitas. Kita akan memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain, dan dengannya kita dapat menolong orang lain yang membutuhkannya. Manusia yang berkualitas selalu menjadi panutan dan tumpuan masyarakat sehingga dimana pun ia berada akan bermanfaat bagi orang lain.

 

Madiun, 30 April 2007

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: