Belajar Hakikat Hidup? No Way!!

Yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat muslim sekarang salah satunya adalah apakah dibenarkan orang yang telah mengetahui hakikat itu meninggalkan syariat?

Mungkin sketsa di bawah ini dapat membantu Anda memahami hal tersebut. Syaratnya, baca lah dengan hati yang bening. Perintahkan semua indera untuk tidak berkomentar dulu. Biarkan hati Anda yang berkomentar pertama kali, setelah Anda membaca tulisan ini dengan tuntas! Ini lah sketsanya.šŸ™‚

Seingat saya, waktu saya lulus SD, saya sudah tidak lagi berangkat sekolah ke SD tersebut, melainkan langsung menuju SMP tempat saya melanjutkan pendidikan saya. Begitu juga ketika saya melanjutkan jenjang pendidikan di SMA. Namun tidak jadi masalah jika sewaktu-waktu saya main ke SD/SMP saya dulu.

Mungkin anda juga ingat hal yang demikian ini. Maka, wajar jika anak yang masih SD menganggap pendidikan yang benar itu adalah pendidikan SD, karena ia belum pernah sekalipun merasakan pendidikan di SMP. Namun anak yang sudah SMP, pasti sudah tidak mau lagi di suruh mengikuti pelajaran di bangku SD. Karena apa? Ia sudah paham apa yang diajarkan di bangku SD.
Lucunya, belakangan ini anak SD A sering ribut dengan SD B dan kadang dengan SD lainnya, karena anak SD A merasa sekolahnya yang paling bagus.
Lebih lucu lagi,šŸ˜€
di jaman sekarang, orang sudah cukup puas dengan pendidikan SD. Karena menurut mereka itu pendidikan ya hanya SD. Orang yang SMA mereka anggap sesat. Kurang waras, kurang kerjaan. Hmm… memang pantas bumi ini jengah dengan kelakuan anak-anak SD ini.

Ketidak tahuan kita akan sesuatu yang belum pernah kita alami, membuat naluri kita mengambil sikap protektif. Akibatnya manusia cenderung tidak mengambil keputusan apa pun. Atau malah menolak. Ini sangat wajar.

Hampir setiap hari kita di didik untuk selalu menggunakan otak kita. Bahkan dalam memutuskan sesuatu yang akan (belum/masih mau/belum pernah) kita jalani, kita meminta pertimbangan otak kita. Tahu kah Anda? Otak hanya lah alat penyimpan/memori perekam atas apa saja yang pernah kita lalui. Jadi tidak akan ia bijaksana jika dimintai pertimbangan atas apa yang belum pernah kita lakukan.

Mulai lah dari sekarang menggunakan sedikit waktu Anda untuk berbincang dengan hati Anda. Rasakan, bedakan, ini adalah kata otak, ini adalah kata hati. Agar dalam menjalani kegiatan apa pun setiap harinya, kita lebih bijaksana.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: